468x60 Ads

Sejarah Selandia Baru

Selandia Baru, yang dalam bahasa Maori disebut Aotearoa (artinya Tanah Berawan Putih Panjang), adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudera Pasifik; kira-kira 1.500 kilometer di tenggara Australia, di seberang Laut Tasman; dan kira-kira 1.000 kilometer di selatan negara-negara kepulauan Pasifik, yakni Kaledonia Baru, Fiji, dan Tonga. Negara ini terdiri dari dua pulau besar (Pulau Utara dan Pulau Selatan) dan beberapa pulau lainnya yang lebih kecil. Karena letaknya yang jauh, Selandia Baru merupakan kepulauan terakhir yang didiami oleh manusia.
Selama masa keterpencilannya yang panjang, di Selandia Baru berkembanglah suatu keanekaragaman hayati yang berbeda, baik itu tumbuhan maupun hewan. Yang paling terkenal adalah sejumlah besar spesies burung yang unik, banyak di antaranya punah setelah tibanya manusia dan mamalia yang dibawaserta. Dengan iklim bahari yang sedang, daratan Selandia Baru sebagian besarnya ditutupi hutan. Topografi negara yang bervariasi dan puncak-puncak gunungnya yang tajam sangat dipengaruhi oleh tonjolan tektonik tanah dan letusan gunung berapi yang disebabkan oleh tumbukan lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia di bawah permukaan bumi.
Bangsa Polinesia mendiami Selandia Baru pada tahun 1250–1300 Masehi dan membangun kebudayaan Māori yang berbeda, dan orang Eropa mulai merintis hubungan dengan mereka pada tahun 1642 Masehi. Pengenalan kentang dan senapan lontak telah memicu pergolakan di antara sesama Suku Māori pada permulaan abad ke-19, yang mengarah pada Peperangan Senapan antarsuku. Pada tahun 1840 Britania dan Māori menandatangani Perjanjian Waitangi yang menjadikan Selandia Baru sebagai jajahan Imperium Britania. Jumlah imigran menaik tajam dan berbagai konflik mengarah pada Peperangan Selandia Baru, yang berakibat pada diambilalihnya tanah Māori di tengah Pulau Utara. Kelesuan ekonomi diikuti oleh beberapa periode reformasi politik, dengan diberikannya hak bersuara kepada perempuan pada dasawarsa 1890-an, dan sebuah negara kesejahteraan dikembangkan sejak dasawarsa 1930-an. Setelah Perang Dunia II, Selandia Baru menggabungi Australia dan Amerika Serikat di dalam perjanjian keamanan ANZUS, meskipun Amerika Serikat, hingga tahun 2010, membekukan perjanjian itu setelah Selandia Baru melarang persenjataan nuklir. Selandia Baru adalah bagian dari kerjasama intelijen di antara negara-negara berbahasa Inggris, Perjanjian UKUSA. Orang Selandia Baru menikmati salah satu standar hidup tertinggi di dunia pada dasawarsa 1950-an, tetapi mengalami kejatuhan yang mendalam pada dasawarsa 1970-an, diperburuk oleh krisis minyak dan masuknya Britania Raya ke dalam Komunitas Ekonomi Eropa. Negara ini kemudian menjalani perubahan ekonomi besar pada dasawarsa 1980-an, yang mengubahnya dari ekonomi proteksionistis menjadi ekonomi perdagangan bebas yang liberal. Pasar untuk ekspor produk pertanian Selandia Baru telah didiversifikasi secara luas sejak dasawarsa 1970-an, dengan ekspor wol yang pernah mendominasi digantikan oleh produk peternakan, daging, dan minuman anggur.
Mayoritas penduduk Selandia Baru adalah keturunan bangsa-bangsa dari Eropa; pribumi Māori adalah minoritas terbesar, diikuti oleh orang Asia dan orang Polinesia non-Māori. Bahasa Inggris, Bahasa Māori, dan Bahasa Isyarat Selandia Baru adalah bahasa-bahasa resmi, dengan Bahasa Inggris yang mendominasi. Sebagian besar budaya Selandia Baru diturunkan dari Māori dan pemukim dini asal Britania. Seni Eropa mula-mula didominasi oleh pemandangan alam dan juga potret Māori yang lebih minim kadarnya. Sebuah kebangkitan baru budaya Māori telah menyebabkan seni-seni tradisional mereka berupa seni ukir/pahat, seni anyam/tenun, dan seni rajah menjadi lebih mengemuka. Banyak seniman kini memadukan teknik-teknik Māori dan Barat untuk menghasilkan bentuk seni yang unik. Budaya negara ini juga telah diperluas melalui globalisasi dan telah menaikkan angka imigrasi dari Kepulauan Pasifik dan Asia. Pelataran alam Selandia Baru yang beraneka ragam menyediakan banyak peluang bagi penikmat keadaan luar rumah dan telah menyediakan latar belakang bagi sejumlah film berbiaya besar.
Selandia Baru adalah negara demokrasi parlementer dan sebuah wilayah Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm). Selandia Baru dibagi ke dalam 11 dewan regional dan 67 otoritas teritorial untuk tujuan pemerintahan daerah; sistem ini memiliki kadar otonomi yang lebih rendah daripada sistem provinsi yang sudah tidak digunakan lagi. Secara nasional, kekuasaan politik eksekutif dijalankan oleh kabinet, yang dikepalai oleh perdana menteri. Ratu Elizabeth II adalah kepala negara dan karena ketidakhadirannya sang ratu diwakili oleh gubernur jenderal. Alam Selandia Baru milik ratu adalah meliputi juga Tokelau (sebuah wilayah dependensi); Kepulauan Cook dan Niue (memerintah-sendiri tetapi dalam asosiasi bebas); dan Dependensi Ross, yang merupakan klaim wilayah di Antarktika. Selandia Baru adalah anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, Negara-Negara Persemakmuran, Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi, Forum Kepulauan Pasifik, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

New Zealand
Aotearoa
Bendera
Lagu kebangsaan
God Defend New Zealand instrumental.ogg

"God Defend New Zealand"
"God Save the Queen"[n 1]
Bola dunia dengan Selandia Baru menjadi pusatnya
Ibu kota Wellington
41°17′S 174°27′E
Kota terbesar Auckland
Bahasa resmi Inggris (95,9%)[n 2]
Māori (4,2%)
Bahasa Isyarat Selandia Baru (0,6%)
Bahasa kebangsaan Inggris (98%)
Kelompok etnik  78%; keturunan Eropa/lainnya[n 3]
14,6% Māori
9,2% Asia
6,9% bangsa Pasifik
Pemerintahan monarki konstitusional, kesatuan, parlementer
 -  Kepala negara Elizabeth II
 -  Gubernur Jenderal Sir Jerry Mateparae
 -  Perdana Menteri John Key
Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat
Kemerdekaan dari Britania Raya [n 4] 
 -  Akta Konstitusi Selandia Baru 1852 17 Januari 1853 
 -  Dominion 26 September 1907 
 -  Statuta Westminster 11 Desember 1931 (diadopsi tanggal 25 November 1947) 
 -  Akta Konstitusi 1986 13 Desember 1986 
Luas
 -  Total 268,021 km2 (75)
 -  Air (%) 1,6[n 5]
Penduduk
 -  Perkiraan Maret 2012 4.430.400[6] (122)
 -  Sensus 2006 4.027.947[7] 
 -  Kepadatan 16,5/km2 (202)
PDB (KKB) Perkiraan 2011
 -  Total US$ 122,193 miliar[8] 
 -  Per kapita US$ 27.668[8] 
PDB (nominal) Perkiraan 2011
 -  Total US$ 161,851 miliar[8] 
 -  Per kapita US$ 36.648[8] 
Gini (1997) 36.2[9] (sedang
IPM (2011) 0,908[10] (sangat tinggi) (5)
Mata uang Dollar Selandia Baru (NZD)
Zona waktu NZST[n 6] (UTC+12)
 -  Musim panas (DST) NZDT (UTC+13)

(September sampai April)
Format tanggal dd/mm/yyyy
Lajur kemudi kiri
Ranah Internet .nz[n 7]
Kode telepon +64

Etimologi

kertas persegi cokelat dengan tulisan Belanda dan garis kurva tebal merah
Sebuah rincian dari peta tahun 1657 yang menunjukkan pesisir barat "Nova Zeelandia"
Aotearoa (seringkali diterjemahkan sebagai "tanah berawan putih panjang")[11] adalah nama Māori untuk Selandia Baru, dan juga digunakan dalam Bahasa Inggris Selandia Baru. Tidak diketahui apakah Māori punya nama untuk seluruh wilayah negara ini sebelum tibanya orang Eropa, jelas bahwa pada mulanya Aotearoa hanya merujuk Pulau Utara.[12] Abel Tasman melihat Selandia Baru pada tahun 1642 dan menyebutnya Staten Landt, dengan anggapan bahwa wilayah ini terhubung dengan daratan besar yang bernama sama di ujung selatan Amerika Selatan.[13] Pada tahun 1645 para kartografer Belanda mengubah namanya menjadi Nova Zeelandia, diambil dari nama salah satu provinsi Belanda, Zeeland.[14][15] Penjelajah asal Britania James Cook kemudian menginggriskan nama tersebut menjadi "New Zealand", atau Selandia Baru dalam bahasa Indonesia.[n 8]
Māori punya beberapa nama tradisional untuk dua pulau besar, termasuk Te Ika-a-Māui (ikan Māui) untuk Pulau Utara, dan Te Wai Pounamu (perairan batu hijau) atau Te Waka o Aoraki (kano Aoraki) untuk Pulau Selatan.[16] Peta-peta dini Eropa menamai pulau-pulau Utara (Pulau Utara), Tengah (Pulau Selatan), dan Selatan (Pulau Stewart / Rakiura).[17] Peta-peta dari tahun 1830 mulai menggunakan Utara dan Selatan untuk membedakan dua pulau terbesar, dan mulai tahun 1907 penyebutan ini mulai menjadi kaidah yang diterima luas.[18] Badan Geografi Selandia Baru pada tahun 2009 menemukan bahwa nama-nama Pulau Utara dan Pulau Selatan tidak pernah diformalkan, tetapi sekarang perencanaan ke arah sana mulai dilakukan.[19] Badan ini juga memperhatikan nama-nama Māori yang sesuai,[20] dengan Te Ika-a-Māui dan Te Wai Pounamu sebagai dua pilihan yang paling mungkin menurut kepala Komisi Bahasa Māori.[21]

Sejarah

Sehimpunan anak panah bermula dari Taiwan ke Melanesia ke Fiji/Samoa dan kemudian ke Kepulauan Marquesas. Populasi kemudian menyebar, beberapa diantaranya ke selatan ke Selandia Baru dan yang lainnya ke utara ke Hawai'i. Himpunan kedua bermula di selatan Asia dan berujung di Melanesia.
Suku Māori sangat mungkin merupakan keturunan orang yang beremigrasi dari Taiwan ke Melanesia dan kemudian berlayar ke timur melalui Kepulauan Masyarakat. Setelah berhenti sementara dari 70 sampai 265 tahun, gelombang baru penjelajahan mengarah pada penemuan dan pendudukan Selandia Baru.[22]
Selandia Baru adalah salah satu daratan utama terakhir yang dimukimi manusia. Penanggalan radiokarbon, bukti dari penggundulan hutan[23] dan keanekaragaman DNA mitokondria di dalam populasi Māori[24] menduga Selandia Baru pertama didiami oleh orang Polinesia Timur antara tahun 1250 sampai 1300,[16][25] menyimpulkan sederetan perjalanan panjang melalui kepulauan Pasifik selatan.[26] Selama berabad-abad kemudian para pemukim ini mengembangkan budaya yang berbeda yang dikenal sebagai Māori. Populasi terbagi dua menjadi iwi (suku) dan hapū (sub-suku) yang akan bekerjasama, bersaing, dan kadang-kadang saling berperang. Pada beberapa periode, sekelompok Māori bermigrasi ke Kepulauan Chatham (yang mereka sebut Rēkohu), di mana mereka mengembangkan budaya Moriori yang berbeda.[27][28] Populasi Moriori berkurang drastis antara tahun 1835 sampai 1862, terutama disebabkan oleh penyerangan dan perbudakan oleh Māori, meskipun penyakit-penyakit yang dibawaserta orang Eropa juga ikut berperan. Pada tahun 1862 hanya 101 jiwa yang selamat dan yang terakhir dikenal berdarah Moriori sepenuhnya meninggal pada tahun 1933.[29]
Orang Eropa pertama yang diketahui mencapai Selandia Baru adalah penjelajah Belanda, Abel Tasman dan para awak kapalnya pada tahun 1642.[30] Dalam sebuah pertemuan yang menegangkan, empat awak kapal terbunuh dan paling sedikit seorang Māori terpukul oleh canister shot.[31] Orang Eropa tidak mengunjungi lagi Selandia Baru sampai tahun 1769 ketika penjelajah Britania, James Cook, memetakan hampir semua pesisirnya.[30] Setelah Cook, Selandia Baru dikunjungi oleh beberapa kapal pemburu paus, pemburu anjing laut, dan kapal dagang Eropa dan Amerika Utara. Mereka menjual makanan, peralatan logam, persenjataan, dan barang-barang lain untuk memperoleh damar, artefak, air, dan jasa seks.[32] Kentang dan senapan lontak yang diperkenalkan telah mengubah pertanian dan peperangan Māori. Kentang menyediakan surplus makanan yang andal, yang memungkinkan kampanye militer lebih panjang dan berkelanjutan.[33] Perang senapan antar-suku telah mencapai 600 pertempuran antara tahun 1801 sampai 1840, dan telah menewaskan 30.000–40.000 Māori.[34] Sejak awal abad ke-19, misionaris Kristen mulai menetap di Selandia Baru, dan berjaya mengubah keyakinan sebagian besar populasi Māori.[35] Populasi Māori berkurang hingga menjadi 40 persen dari keadaan sebelum pertemuan dengan orang Eropa pada abad ke-19; penyakit-penyakit yang dibawaserta oleh orang Eropa telah menjadi faktor utama.[36]
Lembaran Waitangi dari Perjanjian Waitangi
Pemerintah Britania mengangkat James Busby sebagai Residen Britania untuk Selandia Baru pada tahun 1832[37] dan pada tahun 1835, setelah pengumuman rencana pemukiman orang Perancis oleh Charles de Thierry, Persekutuan Suku-Suku di Selandia Baru secara samar-samar mengirimkan Deklarasi Kemerdekaan Selandia Baru kepada Raja William IV dari United Kingdom untuk meminta perlindungan.[37] Kerusuhan yang tengah terjadi dan kedudukan hukum Deklarasi Kemerdekaan yang diragukan telah mendorong Kementerian Kolonial mengirimkan Kapten William Hobson untuk mendaku kedaulatan bagi Mahkota Britania dan merundingkan sebuah perjanjian dengan Māori.[38] Perjanjian Waitangi kali pertama ditandatangani di Bay of Islands pada tanggal 6 Februari 1840.[39] Sebagai respons terhadap upaya Perusahaan Selandia Baru yang berjalan komersial untuk mendirikan permukiman mandiri di Wellington[40] dan para pemukim Perancis yang "membeli" tanah di Akaroa,[41] Hobson mendeklarasikan kedaulatan Britania ke atas semua wilayah Selandia Baru pada tanggal 21 Mei 1840, meskipun salinan-salinan Perjanjian masih beredar.[42] Dengan ditandatanganinya Perjanjian dan deklatasi kedaulatan, banyaknya imigran, khususnya dari United Kingdom, mulai bertambah.[43]
Selandia Baru, mulanya bagian dari koloni New South Wales, menjadi koloni mahkota terpisah pada tahun 1841.[44] Koloni ini memperoleh pemerintahan representatif pada tahun 1852 dan Parlemen Pertama pada tahun 1854.[45] Pada tahun 1856 koloni ini secara efektif memerintah-sendiri, memikul tanggung jawab terhadap semua urusan domestik selain dari kebijakan asli. (Kendali atas kebijakan asli diberikan pada pertengahan dasawarsa 1860-an.)[45] Setelah memperhatikan bahwa Pulau Selatan boleh jadi membentuk koloni terpisah, perdana menteri Alfred Domett mengeluarkan resolusi untuk memindahkan ibu kota dari Auckland ke sebuah lokalitas di dekat Selat Cook.[46] Wellington dipilih atas pertimbangan pelabuhannya dan lokasinya yang berada di tengah, dengan parlemen yang secara resmi berkedudukan di sana untuk kali pertama pada tahun 1865. Karena jumlah imigran bertambah, konflik atas lahan telah memicu Perang Selandia Baru pada dasawarsa 1860-an dan 1870-an, yang berujung pada bergantinya sebagian besar kepemilikan tanah Māori.[47] Pada tahun 1893 negara ini menjadi yang pertama di dunia yang memberikan semua hak perempuan untuk memilih[48] dan pada tahun 1894 merintis adopsi sengketa wajib antara buruh dan uni.[49]
Pada tahun 1907, atas permintaan Parlemen Selandia Baru, Raja Edward VII memproklamasikan Selandia Baru sebagai sebuah dominion di lingkungan Imperium Britania, yang mencerminkan statusnya sebagai satuan politik yang memerintah-secara-mandiri. Pada tahun 1947 negara ini mengadopsi Statuta Westminster, yang menegaskan bahwa Parlemen Britania tidak dapat lagi menyusun perundang-undangan untuk Selandia Baru tanpa persetujuan Selandia Baru.[45] Selandia Baru terlibat dalam urusan-urusan dunia, berjuang bersama-sama pihak Imperium Britania di dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II[50] dan ikut menderita sepanjang Depresi Besar.[51] Depresi ini ikut menjadi penyebab bagi terpilihnya pemerintah buruh pertama dan didirikannya negara kesejahteraan yang menyeluruh dan ekonomi proteksionis.[52] Selandia Baru mengalami kesejahteraan yang membaik setelah Perang Dunia II[53] dan Māori mulai meninggalkan kehidupan perdesaan tradisional mereka dan berpindah ke kota-kota untuk mendapatkan pekerjaan.[54] Sebuah gerakan protes Māori merebak, yang mengkritisi Erosentrisme dan berjuang demi pengakuan yang lebih besar atas budaya Māori dan Perjanjian Waitangi.[55] Pada tahun 1975, sebuah Tribunal Waitangi dibentuk untuk menyelidiki dugaan pelanggaran terhadap Perjanjian Waitangi, dan tribunal ini dibolehkan untuk menyelidiki keluhan-keluhan sejarah pada tahun 1985.[39] Pemerintah telah merundingkan berbagai ganti rugi dan keberatan ini dengan banyak iwi, meskipun pendakuan Māori atas tepi pantai dan dasar laut terbukti kontroversial pada dasawarsa 2000-an.

Politik

Pemerintahan

Selandia Baru adalah monarki konstitusional dengan demokrasi parlementer,[56] meskipun konstitusinya tidaklah tertulis.[57] Ratu Elizabeth II adalah kepala negara yang diberi gelar Ratu Selandia Baru.[58] Ratu diwakili oleh Gubernur Jenderal,[59] yang ditunjuk oleh Ratu atas nasihat Perdana Menteri.[60] Gubernur Jenderal dapat menjalankan hak prerogatif mahkota (seperti meninjau kasus-kasus ketidakadilan dan mengangkat Dewan Menteri (kabinet), duta besar, dan pejabat publik penting lainnya)[61] dan dalam situasi yang langka, kekuasaan cadangan (kekuasaan untuk memberhentikan Perdana Menteri, membubarkan Parlemen, atau menolak Persetujuan Kerajaan atas sebuah rancangan undang-undang menjadi undang-undang).[62] Kekuasaan Ratu dan Gubernur Jenderal dibatasi oleh kekakuan konstitusional dan mereka biasanya tidak dapat dijalankan tanpa nasihat dari Kabinet.[62][63]
Ratu dan perwakilannya, Gubernur Jenderal
Parlemen Selandia Baru memegang kekuasaan legislatif dan terdiri dari Yang Berdaulat (diwakili oleh Gubernur Jenderal) dan Dewan Perwakilan Rakyat.[63] Parlemen juga pernah meliputi sebuah majelis tinggi, Dewan Legislatif, hingga dewan ini dihapuskan pada tahun 1950.[63] Kedudukan tertinggi Parlemen berada pada Yang Berdaulat dan berada di Inggris menurut Bill of Rights 1689 dan telah diratifikasi sebagai undang-undang di Selandia Baru.[63] Dewan Perwakilan Rakyat dipilih secara demokratis dan Pemerintah dibentuk dari partai atau koalisi yang menguasai mayoritas kursi di dewan.[63] Jika tidak ada mayoritas yang terbentuk, maka sebuah pemerintahan minoritas dapat dibentuk jika dukungan dari partai-partai lain pada saat pemungutan suara kepercayaan dan kesediaan terjamin. Gubernur Jenderal menunjuk menteri-menteri di bawah saran dari Perdana Menteri, yang berdasarkan konvensi merupakan pemimpin parlemen koalisi atau partai yang memerintah.[64] Kabinet, yang terdiri dari para menteri dan dipimpin oleh Perdana Menteri, adalah badan pembuat kebijakan tertinggi di dalam pemerintahan dan bertanggung jawab untuk menentukan tindakan-tindakan pemerintah yang signifikan.[65] Berdasarkan konvensi, para anggota kabinet terikat oleh tanggung jawab kolektif atas semua keputusan yang dibuat oleh kabinet.[66]
Para hakim dan pejabat peradilan diangkat secara non-politis dan di bawah aturan yang ketat menyangkut masa jabatan untuk membantu memelihara independensi-konstitusionalnya dari pemerintah.[57] Secara teoretis, keadaan ini memungkinkan peradilan menafsirkan undang-undang hanya berdasarkan legislasi yang diberlakukan Parlemen tanpa pengaruh-pengaruh lain pada saat membuat keputusan.[67] Dewan Penasihat di London merupakan pengadilan banding puncak negara ini sampai tahun 2004, ketika ia digantikan oleh Mahkamah Agung Selandia Baru. Peradilan, dikepalai oleh Hakim Agung,[68] meliputi Pengadilan Banding, Pengadilan Tinggi, dan pengadilan-pengadilan bawahannya.[57]
Gedung "Sarang Lebah" milik Pemerintah Selandia Baru dan Gedung Parlemen (kanan), di Wellington
Hampir semua pemilihan umum parlemen antara tahun 1853 sampai tahun 1996 diselenggarakan di bawah sistem pemungutan suara first past the post (pemegang suara terbanyak adalah yang menjadi pemenang).[69] Pemilihan umum sejak tahun 1930 telah didominasi oleh dua partai politik, Partai Nasional dan Partai Buruh.[69] Sejak tahun 1996, sebuah bentuk representasi proporsional yang disebut representasi proporsional campuran (MMP) telah digunakan.[57] Di bawah sistem MMP setiap orang memiliki dua suara; satu untuk 70 kursi daerah pemilihan (termasuk 7 yang dicadangkan untuk Māori),[70] dan satu lagi untuk partai. Lima puluh kursi sisanya ditetapkan sehingga perwakilan di parlemen mencerminkan suara partai, meskipun sebuah partai harus memenangi satu kursi daerah pemilihan atau 5 persen dari keseluruhan suara partai sebelum partai itu memenuhi syarat untuk mendapatkan kursi ini.[71] Antara bulan Maret 2005 dan bulan Agustus 2006 Selandia Baru menjadi satu-satunya negara di dunia di mana semua jabatan tertingginya (Kepala Negara, Gubernur Jenderal, Perdana Menteri, Ketua DPR dan Ketua Mahkamah Agung) semuanya dipegang oleh perempuan.[72]
Selandia Baru dikenal sebagai salah satu negara paling stabil dan diperintah dengan sangat baik di dunia.[73] Pada tahun 2011, negara ini menempati peringkat ke-5 dalam hal kekuatan lembaga-lembaga demokrasinya[74] dan peringkat pertama dalam hal transparansi pemerintahan dan paling tidak korup.[75] Selandia Baru memiliki angka partisipasi warga negara yang tinggi, dengan 79% pemilik suara ikut serta dalam pemilihan umum terkini, dibanding rata-rata OECD sebesar 72%. Lebih jauh lagi, 67% warga Selandia Baru berkata bahwa mereka percaya akan lembaga-lembaga politiknya, jauh lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 56%.[76]

Militer dan hubungan internasional

Selandia Baru pada masa kolonial awal membolehkan Pemerintah Britania untuk menentukan perdagangan internasional dan bertanggung jawab untuk kebijakan luar negeri.[77] Konferensi Imperial tahun 1923 dan 1926 memutuskan bahwa Selandia Baru harus diizinkan untuk merundingkan perjanjian politiknya, di mana perjanjian perdagangan dengan Jepang pada tahun 1928 menjadi kesuksesan pertamanya. Meskipun independensi ini, Selandia Baru dengan ikhlas mengikuti Britania dalam deklarasi perang terhadap Jerman pada tanggal 3 September 1939, yang diperkuat oleh pernyataan Perdana Menteri Michael Savage, "Ke mana ia (Britania) pergi, kami mengikutinya; di mana ia (Britania) berdiri, di sanapun kami berdiri."[78]
Batalion Māori haka di Mesir, 1941.
Pada tahun 1951 United Kingdom semakin berfokus pada kepentingan-kepentingannya di Eropa,[79] sementara itu Selandia Baru bergabung dengan Australia dan Amerika Serikat dalam perjanjian keamanan ANZUS.[80] Pengaruh Amerika Serikat terhadap Selandia Baru melemah setelah serangkaian protes mengenai Perang Vietnam,[81] penolakan Amerika Serikat untuk menegur Perancis setelah tenggelamnya kapal Rainbow Warrior,[82] ketidaksetujuan akan isu-isu lingkungan dan pertanian, dan kebijakan zona bebas nuklir Selandia Baru.[83][84] Meskipun Amerika Serikat menangguhkan kewajibannya terhadap ANZUS, perjanjian ini masih berpengaruh bagi Selandia Baru dan Australia, yang kebijakan luar negerinya mengikuti tren sejarah yang serupa.[85] Hubungan politis yang dekat masih dipelihara kedua-dua negara ini, dengan sebuah perjanjian perdagangan bebas (Closer Economic Relations) dan peraturan kunjungan yang membolehkan warga kedua-dua negara ini berkunjung, menetap, dan bekerja di Australia maupun Selandia Baru tanpa batasan.[86] Kini lebih dari 500.000 warga Selandia Baru menetap di Australia, dan sebaliknya 65.000 warga Australia menetap di Selandia Baru.[86]
Selandia Baru memiliki keujudan yang kuat di antara negara-negara di Kepulauan Pasifik. Sebuah proporsi bantuan yang besar dari Selandia Baru mengalir ke negara-negara ini dan banyak orang Pasifik yang bermigrasi ke Selandia Baru untuk mendapatkan pekerjaan.[87] Migrasi permanen diatur dalam Skema Kuota Samoa tahun 1970 dab Kategori Akses Pasifik tahun 2002, yang membolehkan sampai 1.100 jiwa berkebangsaan Samoa dan sampai 750 jiwa warga Kepulauan Pasifik lainnya yang boleh menjadi warga permanen Selandia Baru tiap tahunnya. Sebuah skema pekerja musiman untuk migrasi sementara telah diperkenalkan pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 kira-kira 8.000 warga Kepulauan Pasifik bekerja di bawah peraturan ini.[88] Selandia Baru terlibat dalam Forum Kepulauan Pasifik, APEC, dan Forum Regional ASEAN (termasuk Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur).[86] Selandia Baru adalah juga anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa,[89] Negara-Negara Persemakmuran,[90] OECD[91], dan Five Powers Defence Arrangements.[92]
Infanteri dari Batalion 2, Resimen Auckland, dalam Pertempuran Somme, September 1916.
Tentara Pertahanan Selandia Baru memiliki tiga cabang: Angkatan Laut Selandia Baru, Angkatan Darat Selandia Baru, dan Angkatan Udara Selandia Baru.[93] Keperluan pertahanan nasional Selandia Baru adalah sederhana, karena kecilnya kemungkinan untuk diserang secara langsung,[94] meskipun Selandia Baru memiliki keujudan global. Negara ini ikut berjuang dalam dua perang dunia, dengan kampanye yang terkenal di Gallipoli, Kreta,[95] El Alamein[96], dan Cassino.[97] Kampanye Gallipoli memainkan babak yang penting dalam memelihara identitas nasional Selandia Baru[98][99] dan memperkuat tradisi ANZAC bersama-sama Australia.[100] Menurut Mary Edmond-Paul, "Perang Dunia I telah meninggalkan bekas luka pada masyarakat Selandia Baru, dengan hampir 18.500 jiwa yang tewas sebagai akibat perang, lebih dari 41.000 terluka, dan yang lainnya mengalami guncangan emosi, di luar pasukan tempur yang ditempatkan di seberang lautan sebanyak 103.000, sementara keseluruhan populasi hanya sejuta jiwa atau sedikit lebih banyak dari itu."[101] Selandia Baru juga memainkan peran kunci dalam Pertempuran Sungai Plate[102] dan kampanye udara dalam Pertempuran Britania.[103][104] Selama Perang Dunia II, Amerika Serikat memiliki lebih dari 400.000 personel militer yang ditempatkan di Selandia Baru.[105]
Selain Perang Vietnam dan dua perang dunia, Selandia Baru juga bertempur dalam Perang Korea, Perang Boer Kedua,[106] Kedaruratan Malaya,[107] Perang Teluk dan Perang Afganistan. Selandia Baru juga berperan dalam beberapa misi pemeliharaan perdamaian regional dan global, seperti di Siprus, Somalia, Bosnia-Herzegovina, Sinai, Angola, Kamboja, perbatasan Iran–Irak, Bougainville, Timor Timur, dan Kepulauan Solomon.[108] Selandia Baru juga mengirimkan satu unit insinyur angkatan darat untuk membantu membangun kembali infrastruktur Irak selama setahun pada Perang Irak.
Selandia Baru menempati peringkat ke-8 dalam Indeks Komitmen untuk Pembangunan tahun 2011 dari Pusat untuk Pembangunan Global, yang memeringkat negara-negara paling maju di dunia dalam dedikasinya untuk kebijakan-kebijakan yang menguntungkan negara-negara miskin.[109] Selandia baru dipandang sebagai negara paling damai kedua di dunia menurut Indeks Kedamaian Global pada tahun 2012.[110]

Pemerintahan daerah dan teritorial eksternal

Pendatang dini dari Eropa membagi-bagi Selandia Baru ke dalam beberapa provinsi, yang menikmati taraf otonomi tinggi.[111] Karena adanya tekanan keuangan dan keinginan untuk mengkonsolidasi rel kereta api, pendidikan, penjualan tanah, dan kebijakan-kebijakan lainnya, pemerintah kemudian mensentralisasi provinsi-provinsi ini dengan menghapuskannya pada tahun 1876.[112] Hasilnya, Selandia Baru kini tidak memiliki entitas subnasional yang terpisah-pisah. Keberadaan provinsi-provinsi ini masih membekas dan dikenang dalam hari ulang tahun provinsi[113] dan persaingan keolahragaan.[114]
Sejak tahun 1876, berbagai dewan telah memerintah daerah-daerah lokal di bawah legislasi yang ditentukan oleh pemerintah pusat.[111][115] Pada tahun 1989, pemerintah menata ulang pemerintahan daerah ke dalam struktur dua-jenjang, yakni dewan regional dan otoritas teritorial.[116] 249 munisipalitas[116] yang wujud pada tahun 1975 kini telah dikonsolidasi menjadi 67 otoritas teritorial dan 11 dewan regional.[117] Peran dewan regional adalah untuk mengatur "lingkungan alami dengan penekanan khusus berdasarkan pengelolaan sumber daya alam",[116] sementara otoritas teritorial bertanggung jawab untuk mengurus persampahan dan limbah, air, jalan lokal, perizinan bangunan, dan urusan-urusan lokal lainnya.[118] Lima dari dewan teritorial yang ada adalah berupa otoritas kesatuan dan juga bertindak sebagai dewan regional.[119] Otoritas teritorial terdiri dari 13 dewan kota, 53 dewan distrik, dan Dewan Kepulauan Chatham. Meskipun secara resmi Dewan Kepulauan Chatham bukan merupakan otoritas kesatuan, dewan ini memikul banyak fungsi yang biasa dimiliki sebuah dewan distrik.[120]
Alam Selandia Baru adalah salah satu dari 16 alam di dalam persemakmuran[121][122] dan terdiri dari Selandia Baru, Tokelau, Dependensi Ross, Kepulauan Cook, dan Niue.[122] Kepulauan Cook dan Niue adalah negara-negara yang berpemerintahan-mandiri di dalam asosiasi bebas bersama Selandia Baru.[123][124] Parlemen Selandia Baru tidak dapat mengesahkan legislasi untuk negara-negara ini, tetapi dengan persetujuan negara tersebut Selandia Baru dapat bertindak untuk urusan luar negeri dan pertahanan. Tokelau adalah teritorial yang tidak berpemerintahan-mandiri yang menggunakan bendera dan lagu kebangsaan Selandia Baru, tetapi dikelola oleh suatu dewan yang terdiri dari tiga orang tetua (masing-masing satu dari tiap-tiap atol Tokelau).[125][126] Dependensi Ross adalah pendakuan teritorial Selandia Baru di Antarktika, di mana dependensi ini mengoperasikan fasilitas penelitian Basis Scott.[127] Undang-undang kewarganegaraan Selandia Baru memperlakukan semua bagian alam Selandia Baru dengan setara, sehingga sebagian besar orang yang dilahirkan di Selandia Baru, Kepulauan Cook, Niue, Tokelau, dan Dependensi Ross sebelum tahun 2006 merupakan warga negara Selandia Baru. Persyaratan tambahan berlaku untuk mereka yang lahir pada tahun 2006 atau lebih terkemudian.[128]

Lingkungan

Geografi

Lihat pula: Atlas Selandia Baru di Wikimedia Commons
Alpen Selatan yang ditutupi salju mendominasi Pulau Selatan, sedangkan Semenanjung Auckland Utara di Pulau Utara membentang ke arah subtropika.
Gunung Taranaki di Pulau Utara.
Selandia Baru terdiri dari dua pulau utama dan sejumlah pulau yang lebih kecil, terletak di dekat pusat belahan lautan. Pulau Utara dan Pulau Selatan dipisahkan oleh Selat Cook, selebar 22 kilometer di celah tersempitnya.[129] Di samping Pulau Utara dan Pulau Selatan, lima pulau terbesar yang dihuni adalah Pulau Stewart, Pulau Chatham, Pulau Great Barrier (di Teluk Hauraki),[130] Pulau d'Urville (di Marlborough Sounds)[131] dan Pulau Waiheke (kira-kira 22 kilometer dari Auckland tengah).[132] Pulau-pulau negara ini terletak di antara 29° LS sampai 53° LS, dan 165° BT sampai 176° BT.
Selandia Baru memiliki panjang (lebih dari 1.600 kilometer membujur dari utara ke selatan) dan memiliki lebar maksimum 400 kilometer melintang dari barat ke timur,[133] dengan garis pantai sepanjang kira-kira 15.134 kilometer[134] dan total luas daratan seluas 268.021 kilometer persegi[135] Karena pulau-pulau luarnya yang terpisah jauh dan garis pantainya yang panjang, negara ini memiliki sumber daya kelautan yang melimpah. Zona Ekonomi Eksklusif-nya, merupakan salah satu yang terluas di dunia, meliputi lebih dari 15 kali lipat luas daratannya.[136]
Pulau Selatan adalah pulau yang terbesar di Selandia Baru, dan terbagi membujur oleh Alpen Selatan di tengah-tengahnya.[137] Terdapat 18 puncak gunung yang lebih tinggi dari 3.000 meter di atas permukaan laut, yang tertinggi adalah Gunung Cook/Aoraki setinggi 3.754 kilometer di atas permukaan laut.[138] Pegunungan Fiordland yang curam dan fyord yang dalam adalah prasasti bagi proses glasiasi besar pada zaman es di tepi barat daya Pulau Selatan.[139] Pulau Utara tidak terlalu bergunung-gunung, tetapi ditandai oleh banyak gunung api.[140] Zona Vulkanik Taupo yang sangat aktif telah membentuk dataran tinggi vulkanik yang besar, yang diselingi oleh gunung tertinggi di Pulau Utara, Gunung Ruapehu (2.797 meter di atas permukaan laut). Dataran tinggi ini juga menjadi tempat bagi danau terbesar di negara ini, Danau Taupo,[141] yang terletak di kaldera salah satu supervolcano yang paling aktif di dunia.[142]
Taman Nasional Abel Tasman di Pulau Selatan.
Negara ini memiliki topografi yang bervariasi, dan bahkan mungkin kedaruratannya di atas banyak gelombang, hingga perbatasannya yang dinamis, ia mengangkang di antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia.[143] Selandia Baru adalah bagian dari Benua Selandia, sebuah pecahan benua, hampir separo ukuran Australia, yang secara bertahap tenggelam setelah terpisah dari adibenua Gondwana.[144] Kira-kira 25 juta tahun lalu, sebuah pergeseran tektonik lempeng mulai meliukkan dan meremas kawasan ini. Sebagian besar bukti yang kini berada di Alpen Selatan dibentuk oleh pemampatan kerak di sisi Sesar Alpen. Di tempat lainnya, perbatasan lempeng melibatkan subduksi satu lempeng di bawah lempeng lainnya, menghasilkan Palung Puysegur di selatan, Palung Hikurangi di timur Pulau Utara, dan Palung Kermadec dan Palung Tonga[145] di utara jauh.[143]

Iklim

Selandia Baru beriklim lautan yang sedang dengan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 10°C di selatan sampai 16°C di utara.[146] Maksima dan minima yang pernah dicatat adalah 42,4°C di Rangiora, Canterbury dan −25,6°C di Ranfurly, Otago.[147] Kondisi sangatlah bervariasi dari satu region ke region lainnya, dari yang sangat basah di Pesisir Barat Pulau Selatan sampai yang hampir semi-gersang di Otago Tengah dan Cekungan Mackenzie di Pedalaman Canterbury dan subtropis di Semenanjung Auckland Utara.[148] Di antara tujuh kota terbesar, Christchurch adalah yang paling kering, rata-rata hanya menerima 640 milimeter curah hujan per tahun dan Auckland adalah yang paling basah, menerima hampir dua kali lipat yang diterima Christchurch.[149] Auckland, Wellington, dan Christchurch semuanya menerima rata-rata 2.000 jam paparan sinar matahari per tahun. Bagian selatan dan barat-daya Pulau Selatan beriklim lebih sejuk dan lebih berawan, dengan kira-kira 1.400–1.600 jam paparan sinar matahari per tahun; bagian utara dan timur-laut Pulau Selatan adalah wilayah yang paling cerah di negara ini dan menerima kira-kira 2.400–2.500 jam paparan sinar matahari per tahun.[150]

Keanekaragaman hayati

Kiwi, burung endemik yang tidak bisa terbang adalah sebuah ikon nasional.
Pohutukava adalah sebuah tumbuhan endemik Selandia Baru.
Keterpencilan geografis Selandia Baru selama 80 juta tahun[151] dan biogeografi pulau bertanggung jawab atas uniknya spesies flora dan fauna negara ini. Mereka telah berevolusi dari kehidupan liar Gondwana atau beberapa organisme mampu memencar secara biologis dengan menerbangkan dirinya dari pantai ke pantai, berenang, atau terbawa oleh dinamika laut.[152] Kira-kira 82 persen tumbuhan berpembuluh asli Selandia Baru[n 9] adalah endemik, meliputi 1.944 spesies dari 65 genus dan satu familia tunggal.[153][155] Dua jenis hutan utama adalah hutan-hutan yang didominasi oleh pepohonan berdaun lebar dengan Podocarpaceae yang mengambang, atau oleh Nothofagus di wilayah beriklim lebih dingin.[156] Tipe vegetasi lainnya adalah padang rumput.[157]
Sebelum datangnya manusia, kira-kira 80 persen daratan Selandia Baru ditutupi oleh hutan, dengan hanya alpen tinggi, basah, tak-subur dan daerah-daerah vulkanik tanpa pepohonan.[158] Penggundulan hutan besar-besaran di Selandia Baru terjadi setelah manusia tiba, dengan kira-kira separo hutan lenyap terbakar api setelah pendudukan oleh bangsa Polinesia.[159] Sebagian besar hutan yang tersisa juga menyusut setelah datangnya bangsa Eropa, karena terjadi pembalakan kayu atau pembukaan hutan untuk dijadikan lahan bagi perladangan pastoral, menyisakan hutan hanya 23 persen dari keseluruhan daratan.[160]
Hutan-hutan didominasi oleh aneka burung, dan sedikitnya mamalia pemangsa telah menjadi penyebab bagi beberapa spesies seperti kiwi, kakapo, dan takahē berevolusi menjadi burung yang tidak bisa terbang.[161] Kedatangan manusia, perubahan-perubahan yang berhubungan dengan habitat, dan diperkenalkannya tikus Polinesia, ferret, dan mamalia lainnya mengarah pada kepunahan banyak spesies burung, termasuk burung-burung besar seperti moa dan elang Haast.[162][163]
Hewan-hewan asli lainnya diwakili oleh reptil (tuatara, bengkarung, dan cicak),[164] kodok, laba-laba (katipo), serangga (weta), dan siput.[165][166] Beberapa, seperti burung wren dan tuatara, adalah begitu unik, sehingga mereka disebut fosil hidup. Tiga spesies kelelawar (sejak kepunahannya) adalah tiga dan hanya tiga tanda mamalia darat asli di Selandia Baru sampai tahun 2006 ketika ditemukannya tulang-tulang unik dari mamalia darat seukuran-tikus yang berumur paling muda 16 juta tahun.[167][168] Bagaimanapun, mamalia laut terdapat cukup banyak, dengan hampir setengah cetacea dunia (paus, lumba-lumba, dan porpoise) dan banyak pinniped dilaporkan terdapat di perairan Selandia Baru.[169] Ada banyak ragam burung laut di Selandia Baru, sepertiganya hanya ada di negara ini.[170] Ada lebih banyak spesies penguin yang ditemukan di Selandia Baru dibandingkan negara lain.[171]
Sejak datangnya manusia hampir setengah spesies vertebrata negara ini punah, termasuk paling sedikit 51 jenis burung, tiga jenis kodok, tiga jenis kadal, satu jenis ikan air tawar, empat jenis tumbuhan, dan satu jenis kelelawar.[162] Yang lainnya terancam punah atau jumlahnya menyusut drastis.[162] Bagaimanapun, para pelestari di Selandia Baru telah memelopori beberapa metode untuk membantu memulihkan kehidupan liar yang terancam, termasuk suaka pulau, pengendalian hama, translokasi kehidupan liar, penyelenggaraan panti, dan ecological restorasi pulau ekologis dan kawasan-kawasan terpilih lainnya.[172][173][174][175] Menurut Indeks Kinerja Lingkungan tahun 2012, Selandia Baru dipandang sebagai "pewujud yang kuat" dalam hal perlindungan lingkungan, menempati peringkat ke-14 dari 132 negara yang dinilai.[176]

Ekonomi

Selandia Baru termasuk dalam negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menyaingi Eropa Selatan dalam beberapa hal, Selandia Baru termasuk dalam salah satu negara terbaik misalnya pada Indeks Pembangunan Manusia yang menempatkan Selandia Baru pada urutan ketiga. Ekspor merupakan andalan utama perekonomian negara ini sehingga dampak perekonomian dunia akan berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi negara ini.
Selandia Baru memiliki sebuah ekonomi pasar yang modern, makmur, dan maju dengan taksiran produk domestik bruto (PDB) berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB) per kapita sebesar US$ 28.250.[n 10] Satuan mata uang Selandia Baru adalah Dollar Selandia Baru, secara informal dikenal sebagai "dollar Kiwi"; mata uang ini juga beredar di Kepulauan Cook (lihatlah Dollar Kepulauan Cook), Niue, Tokelau, dan Kepulauan Pitcairn.[180] Selandia Baru menempati peringkat ke-5 Indeks Pembangunan Manusia tahun 2011,[181] ke-4 dalam Indeks Kebebasan Ekonomi The Heritage Foundation tahun 2012,[182] dan ke-13 dalam Indeks Inovasi Global INSEAD tahun 2012 .[183]
Milford Sound, salah satu tujuan wisata paling terkenal di Selandia Baru[184]
Auckland, sebuah kota bisnis dengan latar belakang Pulau Rangitoto.
Berdasarkan sejarahnya, industri-industri ekstraktif telah sangat berkontribusi bagi ekonomi Selandia Baru, berfokus pada perburuan anjing laut, penangkapan paus, pemanenan lenan liar, pendulangan emas, pengumpulan getah kauri, dan damar asli.[185] Dengan dikembangkannya kapal laut berpembeku pada dasawarsa 1880-an daging dan hasil-hasil peternakan lainnya diekspor ke Britania, sebuah perdagangan yang menjadi basis bagi pertumbuhan ekonomi yang kuat di Selandia Baru.[186] Permintaan yang besar akan hasil-hasil pertanian dari Britania Raya dan Amerika Serikat telah membantu warga Selandia Baru untuk memperoleh standar kehidupan yang lebih tinggi daripada Australia dan Eropa Barat pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an.[187] Pada tahun 1973 pasar ekspor Selandia Baru mengalami penurunan ketika Britania Raya menggabungi Komunitas Eropa[188] dan faktor-faktor pemberat lainnya, seperti krisis minyak 1973 dan krisis energi 1979, mengarah pada melesunya ekonomi Selandia Baru.[189] Standar kehidupan di Selandia Baru mengalami kejatuhan menjadi di bawah Australia dan Eropa Barat, dan pada tahun 1982 Selandia Baru memiliki pendapatan per kapita yang paling rendah di antara negara-negara maju yang disurvey oleh Bank Dunia.[190] Sejak tahun 1984, pemerintah-pemerintah penerus di Selandia Baru berurusan dengan restrukturisasi ekonomi makro (yang pada mulanya dikenal sebagai Rogernomics dan kemudian berubah menjadi Ruthanasia), secara cepat mengubah Selandia Baru dari ekonomi yang sangat proteksionistis menjadi ekonomi pasar bebas yang sangat liberal.[191][192]
Angka pengangguran mengalami puncaknya di atas 10 persen pada tahun 1991 dan 1992,[193] setelah malapetaka pasar saham 1987, tetapi sebenarnya jatuh ke angka terendah sebesar 3,4 persen pada tahun 2007 (peringkat ke-5 dari 27 negara OECD yang dibandingkan).[194] Bagaimanapun, krisis finansial global yang berdampak besar bagi Selandia Baru, dengan penyusutan PDB selama lima triwulan berturut-turut, resesi terpanjang dalam 30 tahun terakhir,[195][196] dan angka pengangguran naik kembali menjadi 7% pada akhir tahun 2009.[197] Pada bulan Mei 2012, laju pengangguran umum adalah pada kisaran 6,7%; sedangkan laju pengangguran untuk mereka yang berusia 15 sampai 21 tahun adalah sebesar 13,6%.[198] Selandia Baru mengalami serangkaian "emigrasi sumber daya kecerdasan" sejak dasawarsa 1970-an[199] yang masih berlanjut hingga kini.[200] Hampir seperempat pekerja sangat terampil memilih hidup di seberang lautan, terutama di Australia dan Britania, menempati proporsi tertinggi di antara negara-negara maju.[201] Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi "imigrasi sumber daya kecerdasan" yang membawa para profesional terdidik dari negara-negara Eropa dan negara-negara berkembang.[202][203]

Perdagangan

Selandia Baru sangat bergantung kepada perdagangan internasional,[204] khususnya hasil-hasil pertanian.[205] Bilangan ekspornya adalah 24 persen dari produksinya,[134] membuat Selandia Baru rentan terhadap harga-harga komoditas internasional dan resesi global. Industri-industri ekspor pentingnya adalah pertanian, hortikultura, perikanan, kehutanan, dan pertambangan, yang menyumbang setengah ekspor negara ini.[206] Mitra ekspor utamanya adalah Australia, Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Britania Raya.[134] Pada tanggal 7 April 2008, Selandia Baru dan Cina menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Selandia Baru-Cina, perjanjian pertama yang ditandatangani Cina dengan negara maju.[207][208] Sektor jasa adalah sektor terbesar dalam ekonomi negara ini, diikuti oleh manufaktur dan konstruksi dan kemudian perkebunan dan ekstraksi bahan mentah.[134] Pariwisata memainkan peran signifikan dalam ekonomi Selandia Baru, menyumbang US$ 15,0 miliar bagi keseluruhan PDB Selandia Baru dan mendukung 9,6 persen seluruh tenaga kerja pada tahun 2010.[209] International visitors to New Zealand increased by 3.1 percent in the year to October 2010[210] dan diharapkan mengalami kenaikan pada laju 2,5 persen per tahun sampai tahun 2015.[209]
Wol pernah menjadi komoditas utama ekspor Selandia Baru.
Wol pernah menjadi ekspor pertanian utama Selandia Baru pada akhir abad ke-19.[185] Bahkan pada dasawarsa 1960-an, ia memasok lebih dari sepertiga total perolehan ekspor,[185] tetapi sejak saat itu harganya terus menurun dibandingkan komoditas-komoditas lainnya[211] dan wol tidak lagi menguntungkan bagi banyak petani.[212] Sebaliknya, hasil peternakan dan susu meningkat, dengan banyaknya sapi perah bertambah menjadi dua kali lipat antara tahun 1990 sampai 2007,[213] menjadi penyumbang terbesar ekspor Selandia Baru.[214] Sejak tahun itu sampai bulan Juni 2009, hasil susu mencapai 21 persen (US$ 9,1 miliar) dari total ekspor,[215] dan perusahaan terbesar di negara ini, Fonterra, memegang kendali hampir sepertiga perdagangan susu internasional.[216] Ekspor pertanian lainnya pada tahun 2009 adalah daging sebesar 13,2 persen, wol sebesar 6,3 persen, buah-buahan sebesar 3,5 persen dan perikanan sebesar 3,3 persen. Industri anggur Selandia Baru telah mengikuti tren serupa susu, banyaknya kebun anggur bertambah menjadi dua kali lipat pada periode yang sama,[217] mengambil alih ekspor wol untuk kali pertama pada tahun 2007.[218][219]

Infrastruktur

Pada tahun 2008, minyak, gas, dan batu bara memasok 69 persen energi Selandia Baru dan 31 persen sisanya dihasilkan dari energi terbarukan, khususnya tenaga air dan panas bumi.[220] Jejaring transportasi di Selandia Baru meliputi 93.805 kilometer jalan, senilai 23 miliar dollar,[221] dan 4.128 kilometer jalur rel kereta api.[222] Mayoritas kota kecil dan kota besar terhubung oleh angkutan bus, meskipun mobil pribadi adalah modus transportasi terbesar.[223] Kereta api di Selandia Baru diswastakan pada tahun 1993, kemudian dibeli kembali oleh pemerintah pada tahun 2004 dan kini masih menjadi badan usaha milik negara.[224] Kereta api beroperasi melintasi negara ini, meskipun sebagian besarnya mengangkut barang dibanding penumpang.[225] Sebagian besar pengunjung dari luar negeri tiba melalui jalur udara[226] dan Selandia Baru memiliki tujuh bandar udara internasional, meskipun sejak bulan Februari 2011 sampai sekarang hanya Bandar Udara Internasional Auckland dan Christchurch yang berhubungan langsung dengan negara lain selain daripada Australia maupun Fiji.[227] Kantor Pos Selandia Baru memonopoli telekomunikasi sampai tahun 1989 ketika Telecom New Zealand didirikan, mulanya sebagai badan usaha milik negara dan kemudian diswastakan pada tahun 1990.[228] Telecom masih memiliki mayoritas infrastruktur telekomunikasi, tetapi persaingan dari penyedia lainnya bertambah hebat.[229] Uni Telekomunikasi Internasional PBB menempatkan Selandia Baru pada peringkat ke-12 dalam pembangunan infrastruktur informasi dan komunikasi, naik empat tingkat antara tahun 2008 sampai 2010. [230]

Demografi

Populasi historis Selandia Baru (hitam) dan bayangan laju pertumbuhan (merah).
Selandia Baru memiliki populasi sekitar 4 juta. Sekitar 80% dari populasinya adalah turunan Eropa. Suku Maori adalah grup etnik kedua terbesar (14,7%). Sekitar 1996 dan 2001, jumlah orang Asia (6,6%) melewati jumlah orang Kepulauan Pasifik (6,5%).
Kristen adalah agama dominan di Selandia Baru, meskipun hampir 40% populasinya tidak memiliki agama. Denominasi utama Kristen adalah Anglikan, Presbiteranian, Katolik Roma, dan Methodist. Ada juga sejumlah orang yang menyebut mereka Gereja Pantekosta dan Baptis dan juga Mormon. Gereja Ratana yang berbasis di Selandia Baru memiliki banyak pengikut di antara orang Maori. Menurut hasil sensus, agama minoritas lain termasuk Hindu, Buddha, dan Islam. Terdapat lebih dari 36.000 Muslim di Selandia Baru yang sebagian besar adalah pendatang baru dan pengungsi.
Populasi Selandia Baru kira-kira sejumlah 4,4 juta jiwa.[231] Selandia Baru adalah negara yang didominasi oleh kawasan perkotaan, dengan 72 persen populasi tinggal di 16 kawasan perkotaan utama dan 53 persen tinggal di empat kota terbesar Auckland, Christchurch, Wellington, dan Hamilton.[232] Kota-kota di Selandia Baru pada umumnya berperingkat tinggi dalam hal ukuran kelayakan huni internasional. Misalnya, pada tahun 2010 Auckland menempati peringkat ke-4 kota paling layak huni di dunia dan Wellington menempati peringkat ke-12 dalam Survey Kualitas Hidup versi Mercer.[233]
Angka harapan hidup seorang bayi Selandia Baru yang lahir pada tahun 2008 adalah 82,4 tahun untuk perempuan, dan 78,4 tahun untuk laki-laki.[234] Angka harapan hidup bayi pada saat dilahirkan diramalkan naik dari 80 tahun menjadi 85 tahun pada tahun 2050 dan angka kematian bayi diperkirakan mengalami penurunan.[235] Tingkat kesuburan total Selandia Baru adalah sebesar 2,1; relatif tinggi untuk ukuran negara maju, dan kelahiran alami menempati proporsi signifikan pertumbuhan populasi. Oleh karenanya, negara ini memiliki populasi muda dibandingkan dengan negara-negara paling terindustrialisasi, dengan 20 persen penduduk Selandia Baru berumur 14 tahun atau lebih muda.[236] Pada tahun 2050 populasi Selandia Baru ditaksir mencapai 5,3 juta jiwa, umur median berubah dari 36 tahun menjadi 43 tahun dan persentase orang yang berumur 60 tahun atau lebih tua berubah dari 18 persen menjadi 29 persen.[235]

Etnisitas dan imigrasi

Menurut sensus tahun 2006; 67,6 persen penduduk diketahui sebagai keturunan Eropa dan 14,6 persen sebagai Māori.[237] Kelompok etnik utama lainnya adalah bangsa Asia (9,2 persen) dan bangsa Pasifik (6,9 persen), sedangkan 11,1 persen mengaku hanya sebagai "Orang Selandia Baru" (atau serupa dengan itu) dan 1 persen mengaku beretnis lain.[238][n 11] Ini bertentangan dengan data tahun 1961, ketika sensus melaporkan bahwa populasi Selandia Baru pada saat itu 92 persen keturunan Eropa dan 7 persen Māori, dengan minoritas Asia dan Pasifik sebesar 1 persen.[240] Sedangkan demonim untuk warga Selandia Baru dalam bahasa Inggris adalah New Zealander, dan istilah kolokial "Kiwi" biasa digunakan oleh masyarakat internasional[241] dan penduduk setempat.[242] Kata pinjaman dari bahasa Māori, Pākehā biasanya merujuk pada warga Selandia Baru keturunan Eropa, meskipun beberapa pihak menolak sebutan ini,[243][244] dan beberapa orang Māori menggunakannya untuk merujuk semua warga Selandia Baru yang bukan dari kalangan Polinesia.[245]
Kelompok etnik yang paling bertumbuh-kembang di Selandia Baru adalah dari Asia. Di sini, para pemain barongsai menari di Festival Lampion di Auckland.
Suku Māori adalah bangsa pertama yang mencapai Selandia Baru, diikuti oleh pendatang dini Eropa. Kolonisasi berikutnya, didominasi oleh pendatang dari Britania, Irlandia, dan Australia karena kebijakan yang ketat serupa dengan Kebijakan Australia Putih.[246] Terdapat juga imigran yang signifikan dari Belanda, asal Dalmatia,[247] imigrasi dari Italia dan Jerman bersama-sama dengan imigrasi tak-langsung dari Eropa melalui Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Afrika Selatan.[248] Setelah Depresi Besar kebijakan-kebijakan diperlonggar dan keanekaragaman migran semakin bertambah banyak. Pada tahun 2009–2010, sebuah target tahunan tentang persetujuan 45,000–50,000 penduduk tetap telah ditentukan oleh Badan Imigrasi Selandia Baru—lebih dari satu migran baru untuk setiap 100 penduduk Selandia Baru.[249] 23 persen populasi Selandia Baru dilahirkan di seberang lautan, sebagian besarnya menetap di kawasan Auckland.[250] Sementara itu, sebagian besarnya masih berasal dari Britania Raya dan Irlandia (29 persen), imigrasi dari Asia Timur (sebagian besarnya Cina Daratan, tetapi dengan jumlah yang substansial juga dari Korea, Taiwan, Jepang, dan Hong Kong) juga bertambah banyak dengan cepat.[251] Jumlah pelajar internasional yang berbiaya sendiri menaik tajam pada akhir dasawarsa 1990-an, dengan lebih dari 20.000 orang yang belajar dalam lembaga-lembaga pendidikan tinggi publik pada tahun 2002.[252]

Bahasa

Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling luas digunakan di Selandia Baru, dipertuturkan oleh 98 persen penduduk.[3] Bahasa Inggris Selandia Baru adalah serupa dengan Bahasa Inggris Australia dan ada banyak penutur dari belahan utara bumi yang tidak mampu mengucapkan aksen ini.[253]. Perbedaan yang paling mencolok antara Bahasa Inggris dialek Selandia Baru dan Bahasa Inggris dialek lainnya adalah pergeseran pada vokal depan pendek: suara i yang pendek (seperti pada kit) menjadi agak diketengahkan mendekati suara schwa (pepet) (contohnya a pada comma dan about); suara e pendek (seperti pada dress) berpindah ke arah suara i pendek; dan suara a pendek (seperti pada trap) bergeser ke arah e pendek.[254] Dengan demikian, pengucapan khas Selandia Baru untuk kata-kata bad, dead, fish, dan chips terdengar seperti bed, did, fush, dan chups bagi orang yang bukan dari Selandia Baru.
Setelah Perang Dunia II, Suku Māori coba dihalang-halangi menggunakan bahasa mereka sendiri (te reo Māori) di sekolah dan tempat kerja dan bahasa Maori hanya digunakan sebagai bahasa komunitas di beberapa daerah terpencil.[255] Bahasa Maori baru-baru ini mulai diberdayakan kembali,[256][257] dinyatakan sebagai salah satu bahasa resmi Selandia Baru pada tahun 1987,[258] dan dipertuturkan oleh 4,1 persen populasi.[3] Sekarang terdapat sekolah pendalaman bahasa Māori dan dua saluran televisi berbahasa Maori, dua dan hanya dua saluran televisi nasional yang sebagian besar jam siar utamanya disajikan dalam bahasa Māori.[259] Banyak tempat secara resmi dinamai ganda, nama Maori dan nama Inggris beberapa tahun belakangan ini. Bahasa Samoa adalah salah satu bahasa lisan terpopuler di Selandia Baru (2,3 persen),[n 12] diikuti oleh bahasa Perancis, bahasa Hindi, bahasa Yue, dan bahasa Cina Utara.[3][260][n 13] Bahasa Isyarat Selandia Baru digunakan oleh hampir 28.000 orang dan dibuat sebagai bahasa resmi kedua di Selandia Baru pada tahun 2006.[261]
Sebuah gereja Ratana.

Pendidikan dan agama

Pendidikan dasar dan menengah diwajibkan bagi anak-anak berusia 6 sampai 16 tahun, sebagian besarnya dimulai pada usia 5 tahun.[262] Pendidikan wajib ini memerlukan waktu selama 13 tahun dan belajar di sekolah negeri adalah gratis. Selandia Baru memiliki angka melek huruf sebesar 99 persen,[134] dan lebih dari setengah populasi berumur 15 sampai 29 tahun menjalani pendidikan tinggi.[262][n 14] Terdapat lima jenis lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki pemerintah: universitas, kolese pendidikan, politeknik, kolese spesialis, dan wānanga,[263] selain lembaga pelatihan swasta.[264] Dalam populasi dewasa; 14,2 persen bergelar sarjana atau lebih tinggi; 30,4 persen berkualifikasi sekunder (setara pendidikan menengah); dan 22,4 persen tidak berkualifikasi formal.[265] Program Penilaian Pelajar Internasional-nya OECD menempatkan sistem pendidikan Selandia Baru pada peringkat ke-7 terbaik di dunia, di mana para pelajar berkemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan yang sangat baik.[266]
Kristen adalah agama mayoritas di Selandia Baru, meskipun masyarakatnya termasuk yang paling sekular di dunia.[267] Menurut Sensus 2006, 55,6 persen populasi mengaku sebagai orang Kristen, sementara 34,7 persen lainnya mengaku tak-beragama (meningkat dari 29,6 persen pada tahun 2001) dan kira-kira 4 persen menganut agama lain.[268][n 15] Denominasi Kristen terbesar yang ada di Selandia Baru adalah Anglikan, Katolik Roma, Presbiterian, dan Metodisme. Terdapat juga jumlah penganut Kristen yang signifikan yang mengaku sebagai pengikut aliran Pentakosta, Baptis, dan Mormon; serta gereja Ratana yang berbasis di Selandia Baru yang diikuti oleh banyak orang Māori. Menurut gambaran sensus, agama minoritas signifikan lainnya adalah Hindu, Buddha, dan Islam.[260][269]

Budaya

Hiasan rumah dari akhir abad ke-20 yang melukiskan seorang mualim kupe yang berjuang melawan dua makhluk laut.
Bangsa Māori kuno mengadaptasi budaya Polinesia timur yang berbasis tropika, sejalan dengan tantangan-tantangan yang melekat dengan suatu lingkungan yang lebih luas dan lebih beraneka ragam, yang sebenarnya secara langsung ataupun tidak langsung juga mengembangkan budaya sendiri yang berbeda. Organisasi sosial sangatlah bersifat komunal dengan keluarga (whanau), sub-suku (hapu), dan suku (iwi) yang diatur oleh seorang ketua (rangatira) yang kedudukannya memerlukan persetujuan komunitas.[273] Imigran Britania dan Irlandia membawa aspek-aspek kebudayaan mereka ke Selandia Baru dan juga memengaruhi kebudayaan Māori,[274][275] khususnya dengan diperkenalkannya Agama Kristen.[276] Bagaimanapun, Māori masih menganggap kepatuhan mereka terhadap kelompok-kelompok kesukuan sebagai bagian penting dari identitas mereka, dan kekerabatan Māori mirip dengan apa yang berlaku di masyarakat Polinesia lainnya.[277] Yang lebih baru, Budaya Amerika Serikat, Australia, Asia, dan budaya-budaya Eropa lainnya telah memengaruhi budaya Selandia Baru. Budaya-budaya Polinesia yang bukan Māori juga terlihat, dengan diselenggarakannya Festival Pasifika, festival Polinesia terbesar di dunia, dan kini menjadi acara tahunan di Auckland.
Para penari dari Kepulauan Cook Islands di Festival Pasifika, Auckland.
Kehidupan perdesaan yang luas di Selandia Baru dini telah membentuk citra Orang Selandia Baru yang kasar, pemecah masalah yang sangat gigih.[278] Kesantunan diharapkan dan diberdayakan melalui "sindroma opium tinggi", di mana pihak-pihak berpenghasilan tinggi menerima kritikan pedas.[279] Pada masa itu Selandia Baru tidak dikenal sebagai negara intelek.[280] Sejak permulaan abad ke-20 sampai penghujung dasawarsa 1960-an budaya Māori ditekan oleh upaya asimilasi Māori ke dalam Orang Selandia Baru keturunan Britania.[255] Pada dasawarsa 1960-an, ketika pendidikan tinggi dan kawasan perkotaan meluas[281] budaya perkotaan mulai mendominasi.[282] Meskipun sebagian besar populasi kini menetap di kota-kota, banyak seni, sastra, film, dan lawakan Selandia Baru bertemakan perdesaan.

Seni

Sebagai bagian dari kebangkitan budaya Māori, seni tenun dan kerajinan tangan tradisional kini dipraktikkan lebih luas dan para seniman Māori semakin membanyak dan semakin berpengaruh.[283] Sebagian besar ukiran Māori menampilkan gambar-gambar manusia, pada umumnya dengan tiga jari dan tampak alami, detail kepala, atau kepala yang fantastis.[284] Pola-pola permukaan meliputi pilinan, bubungan, takukan, dan sisik ikan menghiasi sebagian besar ukiran.[285] Arsitektur unggulan Māori memuat bangunan-bangunan pertemuan yang diukir (wharenui), dihiasi dengan ukiran dan ilustrasi simbolis. Bangunan-bangunan ini aslinya dirancang untuk dapat dibangun kembali, diubah, dan disesuaikan untuk keperluan yang berbeda-beda.[286]
Māori menghias kayu-kayu bangunan putih, kano, dan nisan menggunakan cat merah (campuran ochre merah dan lemak hiu) dan hitam (terbuat dari jelaga) dan membuat lukisan burung, reptil, dan desain lain pada dinding gua.[287] Rajah-rajah Māori (moko) memuat jelaga berwarna yang dicampur dengan getah, digoreskan pada daging menggunakan pahat yang terbuat dari tulang.[288] Sejak ketibaan orang Eropa, lukisan dan foto menjadi didominasi oleh pemandangan alam, aslinya bukan merupakan karya seni, melainkan gambaran Selandia Baru yang sebenarnya.[289] Foto-foto Māori juga lazim, di mana pelukis dini sering menggambarkan mereka sebagai "noble savage" (orang liar yang terhormat), kecantikan yang eksotik, atau pribumi yang bersahabat.[289] Keterpencilan negara ini telah memperlambat terterimanya pengaruh tren kesenian Eropa, dan memungkinkan seniman lokal mengembangkan gaya regionalisme sendiri yang berbeda.[290] Pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an ada banyak seniman yang memadukan teknik-teknik Māori dan Barat, untuk menciptakan bentuk-bentuk seni yang unik.[291] Seni dan kerajinan Selandia Baru secara bertahap telah menerima perhatian internasional, contohnya melalui pameran di Biennale di Venezia pada tahun 2001 dan pameran "Paradise Now" di New York pada tahun 2004.[283][292]
Potret Hinepare dari Ngāti Kahungunu karya Gottfried Lindauer, menggambarkan chin moko, pounamu hei-tiki, dan jubah tenun.
Jubah Māori terbuat dari serat lenan murni dan bercorak segitiga, berlian, dan bentuk-bentuk geometri lainnya dengan warna hitam, merah, dan putih.[293] Batu hijau dijadikan anting-anting dan kalung, dengan desain yang paling terkenal adalah hei-tiki, sebuah gambaran manusia yang diputarbalik, sedang duduk bersila dengan kepalanya miring ke samping.[294] Orang Eropa membawa etiket busana Inggris ke Selandia Baru, dan sampai dasawarsa 1950-an sebagian besar orang berdandan untuk acara-acara sosial.[295] Standar-standar sejak saat itu menjadi lebih santai dan gaya busana Selandia Baru telah menerima reputasi atas kesederhanaanya, kepraktisannya, dan kesahajaannya.[296][297] Bagaimanapun, industri busana lokal telah tumbuh secara signifikan sejak tahun 2000, melipatduakan ekspor dan bertambah dari segelintir saja menjadi kira-kira 50 merek yang mapan, di mana beberapa merek memperoleh pengakuan internasional.[297]

Sastra

Māori dengan cepat mengadopsi tulisan sebagai alat untuk berbagi pemikiran, dan banyak kisah dan puisi lisannya dikonversi menjadi tulisan.[298] Sebagian besar sastra Inggris klasik diperoleh dari Britania, dan tidak pernah terjadi sedemikian sampai dasawarsa 1950-an ketika toko-toko penerbitan lokal bertambah banyak, dengan demikian sastra Selandia Baru pun mulai semakin dikenal masyarakat.[299] Meskipun masih sangat dipengaruhi oleh tren global (modernisme) dan peristiwa global (Depresi Besar), para penulis pada dasawarsa 1930-an mulai mengembangkan kisah-kisah yang semakin berfokus pada pengalaman mereka di Selandia Baru. Pada periode ini sastra berubah dari kegiatan jurnalistik menjadi pencarian yang lebih bersifat akademis.[300] Partisipasi dalam perang dunia telah memberikan beberapa penulis Selandia Baru sebuah perspektif baru tentang budaya Selandia Baru, dan dengan membanyaknya universitas pascaperang sastra lokal pun semakin berkembang.[301]

Hiburan

Lompat bungee di sebuah sanggraloka di kota kecil Queenstown.
Musik di Selandia Baru dipengaruhi oleh blues, jazz, country, rock and roll, dan hip-hop; banyak dari genre ini yang memberikan interpretasi khas Selandia Baru.[302] Māori mengembangkan lagu dan nyanyian tradisional dari nenek moyang mereka yang berasal dari Asia Tenggara, dan setelah terpencil selama berabad-abad terbentuklah bunyi-bunyi yang "monoton", "muram", dan "unik".[303] Seruling dan terompet digunakan sebagai alat musik[304] atau sebagai alat pemberi isyarat ketika perang atau acara khusus berlangsung.[305] Penduduk dini membawa musik etnik mereka, di mana paduan suara dan grup musik yang memainkan alat musik yang terbuat dari kuningan menjadi memasyarakat, dan para musisi mulai melakukan pertunjukan jelajah Selandia Baru pada dasawarsa 1860-an.[306][307] Grup musik yang menggunakan tambur dan alat musik tiup semakin meluas pada akhir abad ke-20.[308] Industri rekaman di Selandia Baru mulai berkembang pada tahun 1940 dan ada banyak musisi Selandia Baru yang mencapai sukses di Britania dan Amerika Serikat.[302] Beberapa seniman memproduksi lagu-lagu berbahasa Māori dan lagu-lagu berbasis tradisi Māori, kapa haka (lagu dan tarian) dibangkitkan kembali.[309] Anugerah Musik Selandia Baru diselenggarakan setiap tahun oleh Asosiasi Industri Rekaman Selandia Baru (RIANZ); acara anugerah/penghargaan pertama diselenggarakan pada tahun 1965 oleh Reckitt & Colman dengan tajuk Loxene Golden Disc Awards.[310] RIANZ juga menerbitkan tangga musik resmi mingguan negara ini.[311]
Radio pertama hadir di Selandia Baru pada tahun 1922, sedangkan televisi pada tahun 1960.[312] Jumlah film Selandia Baru secara signifikan bertambah banyak pada dasawarsa 1970-an.[313] Pada tahun 1978 Komisi Film Selandia Baru mulai membantu para pembuat film lokal dan banyak film berhasil menarik perhatian dunia, beberapa di antaranya menerima pengakuan internasional. Pelonggaran peraturan pada dasawarsa 1980-an telah berhasil menaikkan jumlah stasiun radio dan televisi.[313] Televisi Selandia Baru utamanya menayangkan acara-acara dari Britania dan Amerika, bersama-sama dengan sejumlah acara dari Australia dan juga produk lokal. Keanekaragaman pemandangan alam dan ukurannya yang kompak, ditambah insentif dari pemerintah,[314] telah mendorong beberapa produser untuk membuat film berbiaya besar di Selandia Baru.[315] Industri media di Selandia Baru didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan, sebagian besar darinya dimiliki asing, meskipun negara masih menguasai kepemilikan beberapa stasiun televisi dan radio. Antara tahun 2003 sampai 2008, Reporters Without Borders secara konsisten menempatkan kebebasan pers Selandia Baru pada peringkat 20 besar.[316] Pada tahun 2011, Selandia Baru menempati peringkat ke-13 dunia dalam hal kebebasan pers versi Freedom House, dengan media terbebas kedua di Asia-Pacific setelah Palau.[317]

Olahraga

Arca seorang pendaki gunung, Sir Edmund Hillary, menatap ke arah Gunung Cook/Aoraki.
Para pemain sepakbola menari "haka" sebelum pertandingan dimulai.
Sebagian besar kode keolahragaan utama di Selandia Baru berasal dari Inggris.[318] Golf, bola jaring, tenis, dan kriket adalah empat cabang olahraga terpopular di Selandia Baru, sepakbola adalah yang paling popular di kalangan anak muda, dan uni rugbi adalah yang paling banyak ditonton.[319] Kunjungan berjaya sepak bola rugbi ke Australia dan Britania Raya pada akhir dasawarsa 1880-an dan awal dasawarsa 1900-an memainkan perang awal dalam menanamkan identitas nasional,[320] meskipun pengaruh olahraga mengalami kemunduran sejak saat itu.[321] Balap kuda juga pernah menjadi olahraga tontonan yang merakyat dan menjadi bagian dari budaya "Rugbi, Balap, dan Bir" pada dasawarsa 1960-an.[322] Keikutsertaan Māori dalam olahraga Eropa khususnya dapat disaksikan dalam rugbi, dan tim negara ini menampilkan haka (olahraga tantangan tradisional Māori) sebelum pertandingan-pertandingan internasional.[323]
Selandia Baru memiliki tim-tim internasional yang kompetitif dalam uni rugbi, bola jaring, kriket, liga rubgi, dan sofbol, dan secara tradisional berkinerja bagus dalam hal triatlon, rowing, balapan yacht, dan bersepeda. Negara ini memiliki rasio medali-berbanding-populasi yang bagus pada olimpiade dan Pesta Olahraga Persemakmuran.[319][324] Tim uni rugbi nasional Selandia Baru seringkali dipandang sebagai yang terbaik di dunia, dan menguasai Piala Dunia Rugbi Uni. Selandia Baru juga menguasai juara dunia liga rugbi. Selandia Baru dikenal melalui olahraga ekstrem, pariwisata petualangan,[325] dan tradisi naik-gunung yang hebat.[326] Kegiatan luar-ruangan lainnya adalah bersepeda, memancing, berenang, berlari, melintas-alam, berkano, berburu, berolahraga-salju, dan berselancar adalah juga merakyat.[327] Olahraga Polinesia, waka ama, balap kano, telah semakin merakyat dan kini menjadi cabang olahraga internasional yang melibatkan tim-tim dari semua negara Pasifik.[328]

0 komentar:

Poskan Komentar