468x60 Ads

Prasejarah Bulgaria

Bulgaria (bahasa Bulgaria: България, resminya Република България, diromawikan menjadi Republika Bulgaria,[5]), adalah sebuah negara di Eropa Tenggara. Bulgaria berbatasan dengan lima negara: Rumania di utara (sebagian besarnya di sepanjang Sungai Donau), Serbia, dan Republik Makedonia di barat, dan Yunani dan Turki di selatan. Laut Hitam membatasi negara ini di sebelah timur.
Dengan luas wilayah 110.994 km², Bulgaria menjadi negara terluas ke-16 di Eropa. Beberapa kawasan pegunungan membatasi bentang alamnya, yang paling terkenal adalah Pegunungan Balkan dan Pegunungan Rodopi, juga Pegunungan Rila, padanya terdapat puncak tertinggi di kawasan Balkan, yaitu Puncak Musala. Sebaliknya, Dataran Donau di utara dan Dataran Trakia Atas di selatan menjadi titik terendah sekaligus sebagai kawasan tersubur di Bulgaria. Pesisir Laut Hitam sepanjang 378 km meliputi seluruh batas timur negara ini. Pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar Bulgaria adalah Sofia.[6]
Cikal bakal negara dan bangsa Bulgaria yang bersatu bermula pada abad ke-7 Masehi. Semua entitas politik Bulgaria yang silih berganti memelihara tradisi (dalam nama etnisitas, bahasa, dan huruf) dari Kekaisaran Bulgaria Pertama (681–1018), yang pada masa itu meliputi sebagian besar Balkan dan sejatinya menjadi pusat kebudayaan bangsa Slavia di Abad Pertengahan.[7] Seiring dengan kemunduran Kekaisaran Bulgaria Kedua (1185–1396/1422), wilayah Bulgaria menjadi di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah selama lima abad. Perang Rusia-Turki pada 1877–1878 mengarah pada pembangunan "negara Bulgaria ketiga" sebagai monarki konstitusional pada 1878, yang memperoleh kedaulatan penuh pada 1908.[8] Pada 1945, setelah Perang Dunia II, negara ini menjadi negara komunis[9] dan merupakan bagian dari Blok Timur sampai terjadinya perubahan-perubahan politik di Eropa Timur pada 1989/1990, ketika Partai Komunis Bulgaria mengizinkan pemilihan umum multipartai dan Bulgaria menjalani masa peralihan ke arah demokrasi dan kapitalisme pasar bebas dengan hasil campuran.
Bulgaria berfungsi sebagai demokrasi parlementer di dalam republik kesatuan konstitusional. Sebagai anggota Uni Eropa, NATO, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Majelis Eropa, WTO, dan negara pendiri OSCE dan Organisasi untuk Kerjasama Laut Hitam, Bulgaria memiliki Indeks Pembangunan Manusia 0,743, peringkat ke-58 di dunia pada 2010.[10]

Република България
Republika Balgariya
Bendera
MottoСъединението прави силата  (Bahasa Bulgaria)
"Saedinenieto pravi silata"  (transliterasi)
"Persatuan membuahkan kekuatan"1
Lagu kebangsaan
Mila Rodino instrumental.ogg

Мила Родино  (Bahasa Bulgaria)
Mila Rodino  (transliterasi)
Wahai Ibu Pertiwi
Peta lokasi  Bulgaria  (hijau tua)
– di Eropa  (hijau & kelabu tua)
– in the Uni Eropa  (hijau)  —  [Legenda]
Ibu kota
(dan kota terbesar)
BG Sofia coa.svg Sofia (София)
42°41′N 23°19′E
Bahasa resmi Bulgaria
Kelompok etnik  83,9% Bulgaria,
9,4% Turki, 4,7% Rom,
1,1% lainnya[1]
Pemerintahan Sistem parlementer
 -  Presiden Rosen Plevneliev
 -  Perdana Menteri Boyko Borisov
Pembentukan
 -  Kekaisaran Bulgaria Pertama 681–1018 
 -  Kekaisaran Bulgaria Kedua 1185–1396 
 -  Kehilangan kemerdekaan 1396 (kalah perang dari Kesultanan Utsmaniyah) 
 -  Pemulihan pemerintahan mandiri 3 Maret 1878 (di bawah Kesultanan Utsmaniyah) 
 -  Penyatuan Bulgaria 6 September 1885 
 -  Kemerdekaan Penuh 22 September 1908 dari Kesultanan Utsmaniyah; resmi diakui pada 6 April 1909 
Bergabung ke UE 1 Januari 2007
Luas
 -  Total 110,993.6 km2 (104)
 -  Air (%) 0,3%
Penduduk
 -  Perkiraan 2010 7.600.000 (94)
 -  Sensus 2011 7.351.234[1] (97th)
 -  Kepadatan 66/km2 (124)
PDB (KKB) Perkiraan 2010
 -  Total US$ 90,763 miliar[2] (70)
 -  Per kapita US$ 12.052[2] (65)
PDB (nominal) Perkiraan 2010
 -  Total US$ 44,843 miliar[2] (68)
 -  Per kapita US$ 5.955[2] (68)
Gini (2008) 33,5[3] (medium
IPM (2010) 0,743[4] (high) (58)
Mata uang Lev Bulgaria2 (BGN)
Zona waktu (UTC+2)
 -  Musim panas (DST) Waktu Musim Panas Eropa Timur (UTC+3)
Lajur kemudi kanan
Ranah Internet .bg3
Kode telepon 359
1 "Bulgaria’s National Flag". Pemerintah Bulgaria. 3 Oktober 2005. Diakses pada 1 Januari 2007.
2 bentuk jamak Leva.
3 Bersama anggota Uni Eropa lainnya, ranah .eu juga digunakan.
4 Sistem telefon selular GSM dan NMT 450i
5 Catu daya rumah tangga 220 V/50 Hz, soket Schuko

Sejarah

Prasejarah dan zaman kuno

Kebudayaan-kebudayaan prasejarah di daratan Bulgaria meliputi budaya Hamangia and budaya Vinča neolitik (alaf ke-6 sampai alaf ke-3 SM), budaya Varna kalkolitik (alaf ke-5 SM; lihat pula Nekropolis Varna), dan budaya Ezero Zaman Perunggu. Budaya Karanovo berperan sebagai alat ukur bagi prasejarah Balkan yang lebih luas.
Riton emas, salah satu benda warisan Panagyurishte bangsa Trakia, dari abad ke-4 sampai ke-3 SM
Bangsa Trakia, salah satu dari tiga kelompok moyang utama Bulgaria modern, tinggal terpisah di beberapa suku sampai Raja Teres menyatukan sebagian besar dari mereka kira-kira pada tahun 500 SM di dalam Kerajaan Odris. Mereka sebenarnya ditaklukkan oleh Iskandar Agung dan kemudian oleh Kekaisaran Romawi. Setelah hijrah dari tanah mereka sendiri, bangsa Slavia Selatan paling timur menempati wilayah Bulgaria modern pada abad ke-6 dan berasimilasi atau diyunanikan sebagai Trako-Romawi. Sejatinya kaum elite Bulgar menyatukan mereka-mereka itu ke dalam Kekaisaran Bulgaria Pertama.[11] Pada abad ke-9, bangsa Bulgar dan Slavia saling berasimilasi.[12]

Kekaisaran Bulgaria Pertama

Asparukh, pewaris Kubrat khan Bulgaria Raya Kuno, hijrah bersama beberapa suku bangsa Bulgar ke daerah-daerah aliran sungai yang lebih rendah Donau, Dniester, dan Dnieper (yang juga dikenal sebagai Ongal) setelah negara bapaknya ditaklukkan oleh bangsa Khazar. Dia menaklukkan Moesia dan Sitia Kecil (Dobrogea) dari Kekaisaran Bizantium, memperluas kerajaan barunya ke arah Semenanjung Balkan.[13] Sebuah traktat perdamaian dengan Bizantium pada 681 dan pembangunan ibu kota Bulgaria, Pliska, di selatan Sungai Donau menandai dimulainya Kekaisaran Bulgaria Pertama, sebuah negara yang didirikan oleh Bulgar, menyatukan tujuh suku bangsa Slavia Selatan.
Penguasa-penguasa berikutnya memperkuat negara Bulgaria—Tervel (700/701-718/721), memantapkan perbatasan dan mendirikan Bulgaria sebagai kekuatan militer utama dengan mengalahkan 26.000 tentara Arab yang kuat pada Pengepungan Arab Kedua terhadap Konstantinopel, yang dengan kemenangan itu berarti juga menghilangkan percobaan serangan Arab berskala penuh dari Eropa Tengah dan Timur.[14]
Krum berkenduri dengan kemegahannya setelah perang Pliska. Pelayannya (kanan jauh) membawa cawan tengkorak kaisar Nikeforus I berisi anggur.
Krum (802–814),[15] memperluas wilayah negaranya menjadi dua kali lipat, membunuh kaisar Nikeforus I di dalam Perang Pliska,[16] dan memperkenalkan hukum perdata tertulis pertama, yang berlaku bagi orang Slavia dan Bulgar. Boris I dari Bulgaria (852–889) menghapus Tengriisme, menggantinya dengan Kristen Ortodoks pada 864,[17] dan memperkenalkan Alfabet Sirilik, dikembangkan di sekolah kesusasteraan di Preslav dan Ohrid.[18] Alfabet Sirilik, beserta Bahasa Bulgaria Kuno, memupuk bahasa tulisan cendekiawan (lingua franca) bagi Eropa Timur, dikenal sebagai bahasa Slavonik Gereja. Kekuasaan Kaisar Simeon I dari Bulgaria (893–927) menyaksikan perluasan wilayah terbesar Bulgaria di dalam sejarahnya.[19] Simeon berupaya agar mendapatkan supremasi militer di atas Kekaisaran Bizantium, diperagakan oleh Perang Akelus (917), salah satu perang yang paling berdarah pada Abad Pertengahan[20] juga sebagai salah satu kejayaannya yang paling menentukan. Takhtanya juga menyaksikan Bulgaria membangun kekayaan, kebudayaan Slavonik Kristen yang unik, yang menjadi teladan bagi masyarakat Slavonik lainnya di Eropa Timur dan juga menyuburkan kelestarian bangsa Bulgaria kendati ada banyak kekuatan yang berupaya mengancamnya menuju perpecahan.
Setelah meninggalnya Simeon, Bulgaria mengalami kemunduran pada pertengahan abad ke-10, diperlemah oleh peperangan dengan bangsa Kroasia, Magyar, Pecheneg, dan Serbia, dan meluasnya bidah Bogomil.[21][22] Hasilnya adalah penyerangan oleh Rus Kiev dan Bizantium secara berturut-turut, yang berujung pada perebutan ibu kota Preslav oleh serdadu Bizantium.[23] Di bawah Samuil, Bulgaria dipulihkan dari serangan-serangan itu dan bahkan mengatur siasat untuk menaklukkan Serbia, Bosnia[24] dan Duklja,[25] tetapi ini berakhir pada 1014, ketika Kaisar Bizantium Basil II ("Sang Pembantai Bulgar") mengalahkan serdadunya di perang Klidium.[26] Setelah mengganyang bangsa Bulgaria, Basil II membutakan mata 15.000 tawanan perang, sebelum membebaskannya.[12] Samuil meninggal segera setelah perang usai, pada 15 Oktober 1014,[26] dan pada 1018 Kekaisaran Bizantium menaklukan Kekaisaran Bulgaria Pertama.

Kekuasaan Bizantium dan Kekaisaran Bulgaria Kedua

Basil II berupaya mencegah pemberontakan dengan cara menahan penguasa lokal dari kalangan bangsawan Bulgaria, yang dikelompokkan ke dalam aristokrasi Bizantium sebagai archon atau strategos,[27] menjamin ketakterbagian Bulgaria di dalam bekas batas-batas geografisnya dan mengakui autosefalus dari Keuskupan Agung Ohrid.[28] Setelah kematiannya, kebijakan domestik Bizantium berubah, yang memicu serentetan pemberontakan yang gagal, yang terbesar dipimpin oleh Peter Delyan. Bagaimanapun, tidak pernah berhasil sampai tahun 1185 ketika bangsawan dinasti Asen, yakni Ivan Asen I dan Peter IV menyusun pemberontakan berjaya dalam menegakkan kembali negara Bulgaria, menandai awal mulanya Kekaisaran Bulgaria Kedua.
Kekaisaran Bulgaria di bawah Tsar Ivan Asen II
Dinasti Asen menetapkan ibu kotanya di Veliko Tarnovo. Kaloyan, raja ketiga dari dinasti Asen, memperluas wilayahnya hingga ke Belgrade, Niš, dan Skopje; dia mengakui keagungan spiritual Paus, dan menerima mahkota kerajaan dari seorang duta paus.[11] Pertumbuhan ekonomi dan budaya begitu kokoh di bawah kekuasaan Ivan Asen II (1218–1241), yang memperluas kendali Bulgaria ke atas Albania, Despotat Epirus, Makedonia, dan Trakia.[29] Pencapaian Arsitektur Sekolah Artistik Tarnovo juga koin-koin pertama yang dicetak oleh penguasa Bulgaria hanyalah sedikit tanda kemakmuran kekaisaran tersebut pada masa itu.[11]
Ivan Shishman, penguasa terakhir Kekaisaran Tarnovo (1371–1395)
Dinasti Asen berakhir pada 1257, dan karena penyerbuan bangsa Tatar (bermula pada akhir abad ke-13), konflik internal, dan serangan yang selalu saja ada dari Byzantium dan Hungaria, militer dan ekonomi negara ini semakin mengalami kemunduran. Di ujung abad ke-14, pembagian faksional di antara para tuan tanah Bulgaria (boyar) dan meluasnya Bogomilisme telah menyebabkan Kekaisaran Bulgaria Kedua terpecah menjadi tiga kekaisaran kecil (di Vidin, Tarnovo, dan Karvuna) dan beberapa kepangeranan setengah-merdeka yang saling berperang, dan juga dengan Bizantium, Hungaria, Serbia, Republik Venesia, dan Republik Genoa. Pada periode 1365–1370, Kesultanan Utsmaniyah, yang telah siap menyerang Balkan, menaklukkan sebagian besar kota-kota di Bulgaria dan benteng-benteng di selatan Pegunungan Balkan dan memulakan upaya penaklukan ke arah utara.[30]

Runtuhnya Kekaisaran Kedua dan kekuasaan Utsmaniyah

Pada 1393, Kesultanan Utsmaniyah merebut Tarnovo, ibu kota Kekaisaran Bulgaria Kedua, setelah tiga bulan penyerbuan. Pada 1396, Kekaisaran Vidin jatuh setelah kalahnya pihak Kristen pada Perang Salib dalam Pertempuran Nikopolis. Dengan hal ini, Kesultanan Utsmaniyah akhirnya menundukkan dan menduduki Bulgaria.[31][32][33] Pada masa kekuasaan mereka, populasi Bulgaria menderita akibat penindasan, ketaktoleransian, dan kesalah-urusan pemerintahan.[34] Kebangsawanan dihapuskan dan kaum tani menjadi budak bagi tuan-tuan Utsmaniyah[35] sementara orang Bulgaria diperlakukan kurang adil dibandingkan Muslim Utsmaniyah dan harus membayar pajak yang lebih besar dari mereka.[36] Budaya Bulgaria menjadi terpencil dari Eropa, pencapaiannya dihancurkan, dan cendikiawan atau rohaniwannya diusir ke negara lain.[37]
Sepanjang hampir lima abad di bawah kekuasaan Utsmaniyah, bangsa Bulgaria merespons penindasan dengan memperkuat tradisi hajduk ("perampokan", "penolakan hukum", "tindakan liar"),[12] dan berupaya mendirikan kembali negara mereka dengan mengatur beberapa pemberontakan, yang paling terkenal adalah Pemberontakan Tarnovo Pertama dan Kedua (1598/1686) dan Pemberontakan Karposh (1689). Kebangkitan Nasional Bulgaria menjadi salah satu faktor penentu dalam perjuangan demi Pembebasan Bulgaria, hasilnya pada pemberontakan April —pemberontakan Bulgaria terbesar dan terbaik. Meskipun berhasil diganyang oleh penguasa Utsmaniyah—sebagai pembalasannya, bangsa Turki membantai kira-kira 15.000 orang Bulgaria[12]—pemberontakan itu memicu Kuasa Besar mengambil tindakan. Mereka menyelenggarakan Konferensi Konstantinopel pada 1876, tetapi putusan-putusan mereka ditolak oleh penguasa Utsmaniyah, yang mengizinkan Kekaisaran Rusia mencari penyelesaian dengan kekuatan tanpa memunculkan risiko konfrontasi militer dengan Kuasa Besar lainnya (seperti yang terjadi dalam Perang Krimea pada 1854 sampai 1856).

Negara Bulgaria Ketiga

Dua hasil penting dari Perang Rusia-Turki (1877–1878) adalah kalahnya serdadu Utsmaniyah oleh Tentara Rusia (didukung oleh relawan Bulgaria dan Angkatan Darat Rumania) dan Traktat San Stefano (3 Maret 1878) sebagai landasan hukum bagi terbentuknya Kepangeranan Bulgaria yang otonom. Kuasa Besar segera saja menolak traktat itu, mereka khawatir bahwa sebuah negara besar di Balkan mungkin mengancam keinginan-keinginan mereka. Perjanjian berikutnya, yaitu Traktat Berlin (1878) menjadikan terbentuknya negara otonom yang lebih kecil yang terdiri dari Moesia dan wilayah Sofia.[38] Kepangeranan Bulgaria secara sepihak mengumumkan negara merdeka sepenuhnya pada tahun 1908, tepatnya 5 Oktober (22 September--tarikh sebelum koreksi 1582), setelah memenangi perang melawan Serbia dan menyatukan wilayah Utsmaniyah setengah-otonom, Rumelia Timur.
Putera Mahkota Boris dengan panglima tertinggi August von Mackensen memeriksa serdadu Bulgaria, 1916
Wilhelm II beserta Ferdinand I, mengenakan seragam militer masing-masing negara mereka, pada sebuah kunjungan ke Sofia.
Pada tahun-tahun setelah memperoleh kemerdekaan penuh, Bulgaria menjadi lebih militeristik, dan dijuluki sebagai "Prusia-nya Balkan".[39][40] Pada 1912 dan 1913, Bulgaria terlibat dalam Perang Balkan, pihak pertama yang terlibat konflik selain Yunani, Serbia, dan Montenegro melawan Kesultanan Utsmaniyah. Perang Balkan I (1912–1913) terbukti sukses bagi tentara Bulgaria, tetapi konflik pemisahan Makedonia muncul di antara sekutu-sekutu yang memenangi perang. Perang Balkan Kedua (1913) menjadi kekalahan yang meluluhlantakkan Bulgaria, yang bahkan diserang secara hampir serempak oleh tetangga-tetangganya. Pada Perang Dunia I, Bulgaria lagi-lagi menjadi pecundang sebagai dampak dari kesekutuannya dengan Blok Sentral. Kendati meraih beberapa kejayaan yang menentukan (pada Doiran, Monastir, dan juga Doiran pada tahun 1918), Bulgaria kalah perang dan menderita kehilangan wilayah yang cukup banyak.[12] Keseluruhan korban dari tiga perang itu adalah kira-kira sebanyak 412.000–152.000 militer gugur dan 260.000 terluka. Gelombang sebanyak 253.000[41] pengungsi resmi, yang mewakili 6% populasi pra-perang negara ini, dan sebagian lagi pengungsi tak-terdaftar yang tak-jelas jumlahnya menambah kemuraman bagi ekonomi nasional yang baru saja ambruk.
Setelah serangkaian kekalahan ini, pada dasawarsa 1920-an dan 1930-an negara ini menderita kekacauan politik, yang memicu didirikannya kediktatoran otoriter oleh Tsar Boris III (bertakhta pada 1918–1943). Setelah merebut lagi kendali atas Dobrudzha Selatan pada 1940, Bulgaria terlibat Perang Dunia II pada 1941 sebagai anggota Blok Poros. Tetapi, Bulgaria menolak turut serta dalam Operasi Barbarossa dan tidak pernah menyatakan perang terhadap Uni Soviet, dan melindungi populasi Yahudi dari pengusiran ke kamp konsentrasi dengan berulang kali menangguhkan pemenuhan permintaan Jerman, dengan menyampaikan berbagai macam alasan yang masuk akal.[42] Pada Maret 1943, hampir 12.000 orang Yahudi di Trakia dan Makedonia, kedua-duanya diurus oleh pemerintah Bulgaria atas nama Nazi, diusir ke Auschwitz dan Treblinka[43] Pada musim panas 1943, Boris III tiba-tiba mangkat, sebuah peristiwa yang menggiring negara ini ke dalam pergolakan politik sejak perang beralih melawan Nazi Jerman dan pergerakan gerilya Komunis mendapatkan kekuatan yang lebih besar.[44]
Zhelyu Zhelev, presiden pertama Bulgaria yang terpilih secara demokratis[45]
Pada September 1944, Barisan Pembela Tanah Air yang didominasi oleh Komunis mengambil alih kekuasaan, setelah banyaknya penyerangan dan kekacauan, mengakhiri kesekutuan dengan Nazi Jerman dan menggabungi pihak Sekutu hingga akhir perang pada 1945. Pemberontakan komunis pada 9 September 1944 menghasilkan penghapusan kekuasaan monarkis, tetapi sampai tahun 1946 sebuah republik rakyat belum juga terbentuk. Hal ini terjadi di bawah pengaruh Soviet, dengan Georgi Dimitrov (1946-1949) sebagai pemimpin politik Bulgaria terdepan. Bulgaria menerapkan perekonomian terencana bergaya Soviet dengan beberapa kebijakan yang berorientasi pasar yang mengemuka pada tataran percobaan[46] di bawah panduan Todor Zhivkov (1954-1989). Pada pertengahan dasawarsa 1950-an standar-standar kehidupan membaik secara signifikan.[47] Lyudmila Zhivkova, puteri Zhivkov, mempromosikan budaya, seni, dan warisan nasional Bulgaria ke seluruh dunia.[48] Di pihak lain, sebuah kampanye pembauran di penghujung dasawarsa 1980-an diarahkan untuk melawan etnik Turki, hasilnya adalah kira-kira 300.000 etnik Turki di Bulgaria beremigrasi ke Turki,[49][50] yang berdampak pada anjloknya produksi pertanian karena kehilangan tenaga buruh.[51] Pada 10 November 1989, Partai Komunis Bulgaria melepaskan monopoli politiknya, Zhivkov mundur, dan Bulgaria mulai memasuki masa peralihan dari negara satu partai ke sistem parlementer.
Pada Juni 1990 pemilihan umum bebas pertama diselenggarakan, dimenangi oleh sayap moderat Partai Komunis (Partai Sosialis Bulgaria—BSP). Pada Juli 1991, diterapkanlah konstitusi baru, yaitu konstitusi yang disediakan untuk Presiden terpilih yang relatif lemah dan untuk Perdana Menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen. Perencanaan ekonomi dibatalkan dan inisiatif pribadi dilegalkan. Sistem baru sebenarnya gagal memperbaiki standar-standar kehidupan atau menciptakan pertumbuhan ekonomi, bahkan rerata mutu kehidupan dan kinerja ekonomi sebenarnya lebih rendah daripada periode Komunis di awal dasawarsa 2000-an.[52] Sebuah paket reformasi diperkenalkan pada 1997 untuk memulihkan kembali pertumbuhan ekonomi yang positif, tetapi memicu tumbuhnya kesenjangan sosial. Bulgaria menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara pada 2004 dan Uni Eropa pada 2007. Divisi Penelitian Federal Perpustakaan Kongres Amerika Serikat melaporkan Bulgaria pada 2006 sebagai negara yang memiliki catatan kebebasan bersuara dan hak asasi manusia yang secara umum bagus,[53] sedangkan Freedom House menyatakan Bulgaria sebagai "bebas" pada 2010, memberinya skor 2 untuk hak-hak politik dan 2 untuk kebebasan sipil.[54] Kendati adanya perbaikan-perbaikan ini, laporan sebenarnya menunjukkan bahwa beberapa isu masih bertahan, yakni yang berkaitan dengan pergerakan nasionalis seperti VMRO, yang berupaya memaksakan sudut pandang mereka dalam hal pelarangan keagamaan, pengakuan yang terkait kekerasan.

Geografi

Sebuah pemandangan di Pegunungan Balkan bagian tengah
Air terjun Raysko Praskalo
Bulgaria terletak di antara 41° dan 45° LU, dan 22° dan 29° BT.
Secara geografis dan dalam hal iklim, Bulgaria memiliki keberagaman yang terkenal, dengan bentang darat mulai dari puncak topi salju Alpen di Rila, Pirin dan Pegunungan Balkan hingga ke pesisir Laut Hitam yang beriklim sedang dan bermatahari; dari the typically iklim kontinental Dataran Danubia (Moesia kuno) di utara hingga ke pengaruh iklim Mediterania di lembah Makedonia dan di dataran rendah di bagian selatan Trakia.

Relief dan sumber daya alam

Bulgaria terdiri dari bagian-bagian wilayah yang terpisah-pisah, yang pada zaman kuno dikenal sebagai Moesia, Trakia, dan Makedonia. Kira-kira 30% tanahnya berupa dataran sedang, sementara dataran tinggi dan perbukitan terhitung sebanyak 41%.[55] Bagian baratdaya yang bergunung-gunung di negara ini memiliki dua rangkaian alpen—yakni Rila dan Pirin—dan di timur jauhnya berdiri gunung-gunung yang lebih rendah tetapi jumlahnya lebih banyak, yakni Pegunungan Rodopi. Barisan Rila terdiri dari puncak tertinggi Semenanjung Balkan, Musala, setinggi 2.925 meter;[56] barisan Pegunungan Balkan dari barat-ke-timur melalui bagian tengah negara ini, di utara Lembah Mawar. Perkampungan yang berbukit-bukit atau berupa dataran terletak di bagian tenggara, di sepanjang Pantai Laut Hitam Bulgaria, dan di sepanjang sungai utama Bulgaria, Donau, di utara. Strandzha membentuk gunung tertinggi di bagian tenggara. Sebagian kecil pegunungan dan perbukitan berada di wilayah timurlaut Dobrogea.
Laut Hitam terlihat dari puncak Bakurluka di dekat Burgas.
Bulgaria memiliki cadangan bauksit, tembaga, timbal, seng, bismut, dan mangan. Cadangan yang lebih kecil adalah besi, emas, perak, uranium, kromium oksida, nikel, dan yang lainnya. Bulgaria juga berkelimpahan mineral yang tidak mengandung logam, semisal garam batu, gipsum, kaolin, dan marmer.

Hidrografi dan iklim

Negara ini memiliki jejaring sungai yang cukup banyak, yakni 540 sungai, sebagian besar nya—kecuali Sungai Donau—pendek dan dengan permukaan air yang dangkal.[57] Sebagian sungai mengalir melalui daerah pegunungan. Sungai terpanjang di Bulgaria (tanpa berbagi dengan negara lain), yakni Sungai Iskar, memiliki panjang 368 km. Sungai besar lainnya adalah Sungai Struma dan Sungai Maritsa di selatan.
Bulgaria secara keseluruhan beriklim sedang, disertai musim dingin dan musim panas. Pegunungan Balkan sebagai penghalang berpengaruh pada iklim di bagian utara negara ini, akibatnya adalah suhu udara yang lebih rendah dan hujan yang lebih sering daripada dataran rendah di selatan.
Kira-kira 20 pasang Elang Imperial Timur (Aquila heliaca) menetap di Bulgaria, dan jumlahnya selalu bertambah.[58]
Rerata curah hujan di Bulgaria adalah 60 mm per tahun.[59] Di dataran rendah, curah hujan bervariasi antara 500 sampai 800 mm, dan di daerah pegunungan antara 1.000 sampai 2.500 mm per tahun. Daerah yang lebih kering di antaranya Dobregea dan jalur pantai utara, sedangkan bagian yang lebih tinggi Rila, Pirin, Pegunungan Rodopi, Pegunungan Balkan, Gunung Osogovska, dan Vitosha menerima kadar tertinggi curah hujan.
Gunung Pirin, yang memegang salah satu pohon tertua di dunia—Pinus Baikushev.[60]

Lingkungan dan kehidupan liar

Bulgaria telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto[61] dan telah mencapai pengurangan 30% emisi karbon dioksida sejak 1990 sampai 2009, memenuhi persyaratan protocol itu.[62] Tetapi, pencemaran dari pabrik-pabrik tua dan peleburan logam, juga beberapa penggundulan hutan (sebagian besarnya disebabkan oleh pembalakan liar), yang berlanjut pada masalah-masalah besar.[63] Kawasan perkotaan secara khusus terpengaruh, sebagian besarnya karena produksi energi dari pembangkit listrik tenaga batu bara dan lalu lintas kendaraan bermotor,[64][65] sedangkan penggunaan pestisida dalam pertanian dan sistem pembuangan limbah yang ketinggalan zaman menghasilkan pencemaran air dan tanah secara besar-besaran oleh zat-zat kimia sintetik dan deterjen.[66] Dan lagi, Bulgaria adalah satu-satunya anggota Uni Eropa yang tidak mendaur ulang sampah/limbah perkotaan,[67] kendati lahan pendaurulangan komputer mulai beroperasi pada Juni 2010.[68] Situasi ini kian membaik pada tahun-tahun belakangan, dan beberapa program yang didanai pemerintah telah dirintis untuk mengurangi kadar pencemaran.[66]
Tiga taman nasional, 11 taman alami[69] dan 17 cadangan biosfer[70] terletak di wilayah Bulgaria. Hampir 35% daratannya berupa hutan.[71] Beruang cokelat dan jackal (sejenis serigala)[72] merupakan mamalia yang kontras, sedangkan lynx Eurasia, elang imperial timur, dan cerpelai Eropa sedikit, tetapi terus membanyak.

Politik

Georgi Parvanov, presiden Bulgaria
Majelis Nasional Bulgaria (Народно събрание) terdiri dari 240 wakil rakyat, masing-masing dipilih untuk masa tugas empat tahun berdasarkan suara pemilih terbanyak. Majelis Nasional memiliki kekuasaan untuk mengesahkan dan memberlakukan undang-undang, menyetujui anggaran, menjadwalkan pemilihan presiden, memilih dan memberhentikan Perdana Menteri dan para menterinya, menyatakan perang, mengirimkan tentara, dan menyetujui piagam dan perjanjian internasional. Presiden berperan sebagai kepala negara dan panglima tertinggi angkatan bersenjata. Presiden tidak dapat mengajukan usulan legislasi selain daripada perubahan undang-undang dasar, tetapi Presiden dapat mengembalikan rancangan undang-undang untuk dibahas lebih lanjut, meskipun parlemen dapat menolak veto Presiden melalui pemungutan suara terbanyak dari semua anggota parlemen. Boyko Borisov, pemimpin partai sayap tengah Citizens for European Development of Bulgaria, menjadi perdana menteri pada 27 Juli 2009,[73] dan Georgi Parvanov terpilih kembali sebagai presiden pada 2005.

Hukum

Sistem hukum Bulgaria mengakui Undang-Undang produk Parlemen sebagai rujukan utama hukum, dan merupakan wujud lazim dari keluarga hukum sipil.[74] Peradilan diawasi oleh Kementerian Keadilan, sementara Pengadilan Administratif Tertinggi dan Pengadilan Kasasi Tertinggi, pengadilan banding tertinggi, berperan pada penerapan undang-undang di pengadilan-pengadilan yang lebih rendah. Dewan Peradilan Tertinggi mengatur sistem dan menunjuk para hakim. Peradilan Bulgaria menjadi satu-satunya yang paling korup dan paling tidak efisien di Eropa.[75][76] Organisasi-organisasi pemberdayaan hukum pada umumnya berkedudukan di bawah Kementerian Dalam Negeri.[77] Kepolisian Nasional Bulgaria bertanggung jawab memerangi kejahatan umum dan menyokong beroperasinya lembaga-lembaga pemberdayaan hukum lainnya, Lembaga Investigasi Nasional dan Kantor Pusat Perang Melawan Kejahatan Terorganisasi. Kepolisian memiliki divisi kriminal dan keuangan dan kantor-kantor nasional dan lokal. Kementerian Dalam Negeri juga mengepalai Kepolisian Perbatasan dan Gendarmerie Nasional, cabang khusus untuk kegiatan anti-terorisme, pengelolaan krisis dan pengendalian kekacauan. Pada 2008, Lembaga Negara untuk Keamanan Nasional, badan khusus untuk kontraintelijen, didirikan bertujuan untuk menghilangkan ancaman keamanan nasional.[78] Kepolisian Bulgaria berkekuatan 27.000 personel.[79]

Hubungan luar negeri

Bulgaria menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1955, dan anggota pendiri OSCE pada 1975. Sebagai Pihak Konsultatif bagi Sistem Traktat Antarktika, negara ini mengambil bagian dalam pengurusan wilayah yang terletak di selatan 60° LS.[80][81] Bulgaria menggabungi NATO pada 29 Maret 2004, menandatangani Traktat Penyertaan 2005 Uni Eropa pada 25 April 2005,[82][83] dan menjadi anggota penuh Uni Eropa pada 1 Januari 2007.[84] Pada April 2006 Bulgaria dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian kerjasama pertahanan yang memungkinkan penggunaan Pangkalan Udara Bezmer dan Graf Ignatievo, Tempat Latihan Militer Novo Selo, dan pusat logistik di Pusat Logistik Aytos sebagai Fasilitas Militer Bersama Bulgaria-Amerika. Majalah Foreign Policy menyebutkan bahwa Pangkalan Udara Bezmer sebagai salah satu dari enam fasilitas seberang lautan terpenting yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat.[85]

Militer

Tentara terjun payung Brigade Pasukan Khusus ke-68, latihan Musim Panas Trakia, April 2010
Militer Bulgaria, semuanya berupa badan militer sukarela, terdiri dari tiga cabang—angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Sebagai anggota NATO, negara ini memelihara 776 serdadu yang ditugaskan di seluruh wilayah NATO.[86] Menurut sejarahnya, Bulgaria menugaskan sejumlah personel militer dan penasehat sipil yang signifikan di negara-negara yang berorientasi sosialisme, seperti Nikaragua[87] dan Libya (lebih dari 9.000 personel).[88]
Setelah serangkaian perampingan yang dimulakan pada 1990, tentara yang aktif kini kira-kira sejumlah 32.000,[89] berkurang dari 152.000 personel pada 1988,[90] dan didukung oleh tentara cadangan sebanyak 303.000 serdadu dan petugas dan serdadu paramiliter, sebanyak 34.000.[91] Sistem persenjataan yang dimiliki terdiri dari peralatan impor dari Soviet yang berkemampuan tinggi, seperti pesawat tempur MiG-29, SA-10 Grumble SAM dan SS-21 Scarab, yakni peluru kendali balistik berjangkauan-pendek. Belanja militer pada 2009 sebesar $1,19 miliar.[92]

0 komentar:

Poskan Komentar